PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL

0
913 views

Oleh: Dr. H. Muhammad Tohir Ritonga, Lc. MA

(Anggota Komisi Fatwa MUI SU, Direktur PP. Darul Qur’an)

Puasa enam hari di bulan Syawal karena menyertai puasa Ramadan artinya sekaliannya. Jika tidak maka tidak mendapatkan keutamaan berikut ini, sekalipun ia berbuka karena uzur, seperti puasa satu tahun, HR. Muslim. Artinya karena satu kebaikan bernilai sepuluh sebagaimana ada penjelasannya dalam riwayat Ar-Ramli sanadnya hasan yang terjemahannya: Puasa Ramadan bernilai sepuluh bulan, dan puasa enam hari artinya di bulan Syawal bernilai dua bulan, maka jadilah satu tahun.

Kesimpulannya, bahwa orang yang puasa enam hari di bulan Syawal bersama puasa Ramadan setara dengan puasa fardhu satu tahun, tanpa ada kelebihan, dan orang yang berpuasa enam hari selainnya adalah seperti puasanya yang sunnah tanpa ada nilai lebih.[1]

Puasa enam di bulan Syawal karena ada riwayat yang sahih: (Siapa yang berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal adalah seperti puasa satu tahun). Dan hadis Nabi saw.: (Puasa Ramadan sebanding dengan sepuluh bulan, puasa enam hari bulan Syawal sebanding dengan dua bulan maka itulah satu tahun) artinya seperti puasanya yang fardhu dan jika tidak maka tidak dikhususkan demikian itu dengan puasa Ramadan dan enam hari di bulan Syawal karena kebaikan bernilai sepuluh lipat balasan.

Maksud ungkapan ini sebagai peringatan,  bahwa orang yang tidak puasa Ramadan karena uzur, musafir, anak-anak, gila atau kafir maka tidak disunnahkan baginya puasa enam hari di bulan Syawal.

Abu Zur’ah berkata: Tidaklah demikian, artinya bahkan tetap hasil baginya dasar kesunnahan puasa sekalipun tidak ia dapatkan pahala yang disebutkan dalam hadis, karena keterkaitannya dengan puasa Ramadan. Jika ia sengaja berbuka puasa Ramadan tanpa uzur maka haram baginya berpuasa enam hari di bulan Syawal.

Maksud ungkapan Al-Muhamili yang beliau juga mengikut kepada gurunya Al-Jurjani: Dimakruhkan bagi yang ada qahda Ramadhan bahwa ia puasa sunnah bagi orang yang berbuka tanpa uzur, karena menafikan apa yang telah terdahulu. Dan hasillah kesunnahan berpuasa dengan melakukannya terpisah akan tetapi berturut-turut dan menyambungnya dengan hari Raya lebih afdhal karena ada unsur segera melakukan ibadah.[2]

Menfatwakan sekalian ulama Mutaakhkhirin: hasil pahala puasa Arafah dan apa saja setelahnya artinya (‘Asyura, Tasu’a –puasa tanggal 9 Muharram- dan enam hari di bulan Syawal) terjadi puasa fardhu padanya artinya (qadha dan nazar), zahir kemutlakannya bahwa tidak ada perbedaan dalam mendapatkan pahala antara bahwa ia niatkan atau tidak, berbeda dalam kitab Al-Majmu’ dan imam Isnawi mengikutinya, ia berkata: Jika ia meniatkan keduanya tidak hasil baginya sesuatu dari keduanya, sebagaimana apabila ia maksudkan bagi keduanya seperti sunnah zuhur dan fardhu zuhur.

Syaikh kita berkata (Ibn Hajar Al-Haitami): seperti Syaikhnya juga (Zakariya Al-Anshari): Dan yang dimaksud bahwa ada puasa pada bulan Syawal maka ia seperti shalat tahiyyat, jika ia meniatkan sunnah juga maka hasillah keduanya, dan jika tidak gugurlah darinya tuntutan artinya dengan yang sunnah tidak bisa masuk ke fardhu.[3]

Disunnahkan bagi orang yang puasa Ramadan bahwa ia lanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, karena ada riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra. bahwa Rasul saw. bersabda: Siapa yang puasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal maka adalah ia seperti puasa satu tahun. (HR. Muslim)

 Dan disunnahkan bahwa mempuasakannya beriringan pada awal bulan Syawal setelah idul fithri, maka jika ia mempuasakannya terpisah atau ia lambatkan di akhir Syawal maka itupun boleh, dan hasil fadhilah puasa satu tahun karena hadisnya umum dan muthlak, akan tetapi berurutan lebih afdhal setelah idul fithri karena bersegera dalam beribadah ditambah lagi karena khawatir luput karena melambat-lambatkan.

Jika seseorang puasa qadha pada bulan Syawal atau nazar atau selainnya hasillah baginya kesunnahan puasa Syawal, akan tetapi tidak hasil baginya pahala ini yang disebutkan khsusus orang yang meninggalkan Ramadhan dan ia puasa Syawal, karena tidak benar baginya puasa satu tahun.[4]

Puasa enam hari di bulan Syawal: Sekalipun terpisah-pisah, akan tetapi berurutan lebih afdhal mengiringi idul fithri karena bersegera dalam beribadah, dan hasil baginya pahala, dan sekalipun ia puasa qadha, atau nazar, atau selainnya, maka siapa yang mempuasakannya setelah ia puasa Ramadan maka seolah-olah ia puasa satu tahun, karena ada riwayat dari Abu Ayyub ra.: Siapa yang puasa Ramadhan kemudian ia melanjutkan enam hari di bulan Syawal maka hal itu dinilai satu tahun. (HR. Jama’ah kecuali imam Al-Bukhari dan An-Nasa’i) dan Tsauban meriwayatkan: Puasa satu bulan sebanding dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari sebanding dengan dua bulan maka hal itu satu tahun penuh. (HR. Sa’id bin Manshur sanadnya dari Tsauban) artinya bahwa satu kebaikan setara dengan sepuluh kebaikan, dan satu bulan setara dengan sepuluh bulan, dan enam hari sama dengan enam puluh hari, maka hal itu sama dengan satu tahun sempurna.[5]

Disunnahkan bagi orang yang puasa Ramadan bahwa ia lanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, dan disunnahkan bahwa puasanya berurutan, maka jika ia mempuasakannya terpisah-pisah maka boleh, dan ini juga pendapat imam Ahmad bin Hanbal.

Malik dan Abu Hanifah berkata: dimakruhkan demikian itu, karena takut bersambung dengan yang fardhu.

Malik berkata: Tidak aku lihat seseorangpun dari ahli ilmu yang melakukannya.

Dalil kami adalah: Apa yang diriwayatkan Abu Ayyub: bahwa Nabi saw. bersabda: Siapa yang puasa Ramadhan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-oleh berpuasa satu tahun seluruhnya. (HR. Muslim)

Penganut mazhab kita berkata: ini hitungan yang benar, karena satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan, dan puasa Ramadhan setara dengan 300 hari, yaitu sepuluh bulan, maka jika seseorang puasa enam hari setelahnya, maka hal itu menempati enam puluh hari, dan itu selama dua bulan, dan itulah hitungan satu tahun.[6]    


[1] Syaikh Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i (w. 974 H), Tuhfah Al-Muhtaj syarh Al-Minhaj, jilid 3, hal. 545-546.

[2] Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Abu Al-Abbas Ahmad bin Hamzah bin Syihabuddin Ar-Ramli yang dikenal dengan Syafii Kecil (w. 1004 H), Nihayah Al-Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj, jilid 3, hal. 208

[3] Syaikh Ahmad Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fannani Asy-Syafi’i (w. 987 H), Fath Al-Mu’in, dan Syaikh Abu Bakr Utsman bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi Al-Bakri (w. 1320 H), Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, jilid 2, hal. 484-485

[4] Syaikh Muhammad Az-Zuhaili, Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh Asy-Syafi’i, jilid 2, hal. 208-209.

[5] Syaikh Wahbah bin Musthafa Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, jilid 3, hal. 1641

[6] Syaikh Yahya bin Abu Al-Khair bin Salim bin As’ad bin Abdullah bin Muhammad bin Musa bin ‘Imran (w. 558 H), Al-Bayan fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i, jilid 3, hal. 545