KE-QADIM-AN SIFAT-SIFAT ALLAH DALAM KONSEP TEOLOGIS AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

0
5.581 views

Oleh Husnel Anwar Matondang, (Muzakarah Komisi Fatwa, Ahad 25 Agustus 2019)

Pendahuluan

Wacana teologis, khususnya tentang sifat-sifat Allah, bukanlah masalah yang baru. Ini adalah problema klasik yang sejarahnya cukup panjang di dunia Islam. Karena itu, bagi sebagian orang, membicarakan topik ini menjadi tidak menarik, karena sudah usang. Padahal ini adalah ranah akidah yang setiap orang harus mengetahuinya. Ketidaktertarikan yang kami utarakan itu bukan hanya asumsi semu yang tanpa bukti. Hal itu didalilkan dengan fakta banyaknya masyarakat yang tidak memahami persoalan ini, apa lagi sampai pada diskursus yang bersifat komparasi antar aliran teologis (kalamiyah). Jika ketidaktahuan itu berlangsung pada kelompok awam (mereka yang tidak takhashshush dalam ilmu keislaman), maka hal tersebut dapat dimaklumi. Tetapi, bagaimana kalau itu terjadi pada orang-orang yang menspesialisasikan diri dalam kajian keislaman. Lebih-lebih lagi ketika kita menemukan hal yang demikian berlaku pada sebagian orang yang kuliah di prodi Akidah dan atau Filsafat Islam. Ini tentu menjadi masalah serius bagi keilmuan para akademisi kita sekaligus ironi yang menyesakkan dada.

Baru-baru ini, muncul perdebatan, di tengah-tengah masyarakat pada salah satu sudut wilayah Sumatera Utara. Konon, perdebatan itu sudah sampai pada saling mengkafirkan antara satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Masalahnya adalah karena segolongan mengatakan bahwa sifat Allah adalah baharu (muhdats) dan segolongan lagi mengatakan sebaliknya, yaitu qadim.[1] Namun kita masih bersyukur karena perdebatan tersebut tidak sampai memakan korban jiwa dan para pihak berkenan untuk mendiskusikan dan menyelesaikannya dengan MUI Kabupaten dan MUI Propinsi sebagai institusi keagamaan di Indonesia. Walau demikian masalah ini telah melibatkan pihak berwajib yang mungkin akan berujung di Pengadilan. Deliknya tentu  bukan aqidah tetapi pencemaran nama baik. Namun, sikap ini tidaklah bijak dan membuka perseteruan dan lubang sosial yang lebih lebar bagi masyarakat Muslim di wilayah ini.

Makalah ini, walaupun sederhana, mencoba untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan merujuk ke sumber-sumber aliran mainstream umat Islam Indonesia. Tujuannya adalah untuk memberikan telaah ulang bagi yang membutuhkan informasi, terkhusus pihak-pihak yang berseberangan. Menetapkan sifat Allah qadim (tanpa awal) atau hadits (baharu) tidak bisa hanya melihat dari satu sisi, namun harus melihatnya dari berbagai sisi; tidak bisa hanya terkhusus pada satu aliran semata sehingga menutup mata pada aliran yang lain di dalam kancah besar Ahlussunnah Waljamaah. Oleh sebab itu, makalah ini akan membuka diskusi untuk dilanjutkan, mudah-mudahan kita menemukakan solusi dan titik kebenaran. Allahumma Amin.