ISLAM DAN PENDIDIKAN ISLAM DI KAMBODIA

0
3.681 views


Oleh ; Prof.Dr. Fachruddin Azmi,MA (Ketua Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Sumatera Utara

A.Pendahuluan

Kamboja adalah negara Kerajaan Konsitutional  ( King dom Of Cambodia) salah satu dari Negara anggota ASEAN. Pada program kerja tahun 2019 ini  MUI Propinsi Sumatera Utara diagenda kunjungan silaturrahmi dan Multaqa Ulama Ke Kamboja. Tujuan kunjungan ke Kamboja ini berdasarkan beberapa pertimbangan . Pertama karena belum pernah MUI  Propinsi Sumatera Utara mengadakan kunjungan ke Kamboja dibanding Ke Thailand dan Malaysia bahkan ke Australia.  Kedua secara historis penyebaran Islam di Indonesia punya hubungan dengan kerajaan Champa yang masyarakatnya sekarang banyak berdomisili di Kamboja. Ketiga adanya hubungan baik antara pemerintah RI dengan kerajaan Kamboja  yang telah terjalin sejak Presiden Sukarno. Keempat untuk melihat dari dekat kemajuan dan kehidupan beragama di Kamboja utamanya masyarakat Islam minoritas di Kamboja seperti masalah halal tourisme . pendidikan, dan social budaya lainnya.

Kunjungan ini dilaksanakan tanggal 8 September sampai dengan 12 September 2019 dengan agenda :  kunjungan ke kedutaan besar RI di Phnompenh, Multaqa Ulama di kediaman Mufti Kambodia, Kunjungan ke Meseum Killing Field  selanjutnya kunjungan akan di lajutkan ke kota Seim Reap 350 Km ke utara Phnompenh, acara disini menyaksikan peninggalan peradaban kuno  Angkor Wat dan  kehidupan Muslim di Seim Reap. Sesuai program kunjungan berakhir tanggal 12 September 2019. Rombongan tidak kembali ke Phenompenh. Perjalanan ke tanah air tekah diatur melalui bandara kota ini  Dari bandara Internasionl Seim Reap penulis dan rombongan akan bertolak kembali ke tanah air melalui kuala Lumpur Malaysia  ke Bandara Kuala Namu Medan Sumatera Utara.

Penulis sangat terkesan pada kehidupan umat Islam Kamboja terutama dalam bidang Pendidikan ke agamaan. Kesan kesan itu penulis rangkumkan pada tulisan ini  yaitu  berkisar tentang:

  1. Kebijakan  pemerintah Kamboja dalam bidang keagama an.
  2. Kehidupan Beragama Masyarakat  Islam di Kamboja.
  3. Bidang pendidikan dan pengajaran Islam
  4. Partisipasi masyarakat Islam Kamboja Pada Pendidikan Dan Pengajaran
  5. Penutup

B.Kebijakan  pemerintah Kamboja dalam bidang keagamaan.

Hubungan pemerintah Indonesia dan Kamboja  sejak lama telah terjalin baik. Rakyat dan pemerintah Kamboja mempunyai hubungan yang sangat erat sejak dari masa Presiden Sukarno . Hubungan dengan Pangeran Norodom Sihanouk yang sangat dekat dan demikian  juga berlanjut pada masa kepemimpinan presiden Suharto. Peran Indonesia dalam menyelesaikan konplik di Kambodia  yang besar membuat masyarakat kambodia merasa berhutang budi dengan Indonesia. Hidup ditengah masyarakat pernyataan tampa Indonesia Kambodia tidak akan ada seperti sekarang.  Hubungan emosional inilah yang perlu dirawat dan dilestarikan kegenarasi Kambodia yang lebih muda kedepan sehingga sejarah hubungan baik ini tetap terpelihara (Sudirman : 2019)

Dewasa ini pemerintahan Kambodia sangat terbuka. Paham komunis sepertinya telah bermetamorfosa dengan demokrasi liberal,  system perpolitikan telah multi party. Ada dua puluh partai yang   mewakili aspirasi rakyat Kambodia. Namun karena partai partai itu tidak memenuhi threshold maka yang duduk di parlemen adalah  Partai  Rakyat Kambodia (The People Cambodian Party) sebagai single  mayority,(Sudirman; 2019)

Pengalaman konflik yang berat membuat pemerintah dan rakyat Kambodia memahami benar arti sebuah perdamaian dan saling penghargaan. Hal ini membuat meraka sangat mampu hidup berdampingan. Ummat beragama dapat hidup rukun penduduk Kambodia yang beragama Islam lebih kurang  600 ribu jiwa dari penduduk Kambodia saat ini  yang berjumlah lebih kurang 15 Juta jiwa. Pemerintah Kamboja menyatakan 2 % Islam, 95 % Budha (thevada dan Mahayana) 3 % kristen katolik dan agama Hindu. Mereka dapat menerima para pendatang dan sangat  menggalakan tentang wisata   ada sebanyak 6,3 juta wisatawan setiap tahun masuk ke Kambodia. (Sudirman,2019)

            Pemerintah dan masyarakat sangat mendukung program wisata halal (Halal Touristme) dan halal food. Bagi pemeluk agama budha wisata halal dipandang bukan slogan agama. Persepsi masyarakat umumnya wisata halal mendatangkan banyak kunjungan wisata dan hal itu menguntungkan atau banyak tamu banyak rezeki. Sikap masyarakat untuk wellcome pada pendatang dan tidak mau mengganggu  mungkin juga adanya kepercayaan tentang karma hal ini membuat masyarakat Kamboja secara umum meyakini kebaikan akan melahirkan kebaikan demikian pula sebaliknya, karena halal wisata dan  halal food itu baik maka pastilah mendatangkan kebaikan. (Sudirman; 2019)

   Masyarakat Islam mendapatkan kebebasan menjalankan ibadah dan membangun rumah ibadah serta menjalankan pendidikan Islam. Pemerintah membentuk urusan khusus agama Islam dibawah kementeriaan  agama dan kebudayaan. Pemerintahan sekarang dibawah PM Hunsen memiliki perhatian lebih kepada ummat Islam. Hal ini mungkin disebabkan  antara lain Hun Sen merasa berhutang budi kepada umat Islam yang banyak membantu perjuangannya melawan Polpot. Serta sikap ummat Islam yang mendukung serta memenangkan Hunsen dalam pemilihan umum yang diadakan dimana distrik yang banyak pemeluk Islamnya partai Hunsen menang besar.  Perhatian Hunsen kepada umat Islam ditunjukkannya dengan mengadakan buka bersama Ifthar Nasional pada bulan Ramadhan, Bulan Ramadhan yang baru lalu Ifthar yang diadakan Hunsen dihadiri hampir 7000 umat Islam. Hunsen juga kerap berkeling mengunjungi Mesjid dan pemukiman serta sekolah sekolah Muslim memberikan bantuan dan silaturrahmi secara rutin di hari hari besar Islam. Pemerintahan Hunsen mendirikan gedung madrasah di beberapa distrik dari 24 Provinsi yang ada. (Sudirman;2019)

Salah seorang jamaah organisasi Muslim Tuktuk;  Sukri Musa menyatakan Hunsen juga mendukung agar tiap pusat Bisnis , Hotel dibuat tempat  untuk Ibadah Muslim  serta mendukung penuh wisata halal. Pemerinah kamboja sangat terbuka dan memandang wisata halal membuka peluang yang menguntungkan dan makin banyak yang datang makin banyak rezeki (Syukri ; 2019)

Tempat kami menginap Le Grand Palais Hotel juga tampak sangat  sungguh sungguh mendukung wisata halal. Tiap ruang di sediakan sajadah dan petunjuk arah kiblat serta label makanan halal terpampang jelas di restaurant ruang bawah yang artistic bergaya Perancis..  Para pelayan hotel juga diantaranya memakai busana muslim berupa pakaian muslim  campa. Mirip busana Muslim baju kurung Melayu dengan selendang dibahunya.  Hari libur keagamaan tidak dikenal di Kambodia mereka menjalankan kegiatan hari besar tampa memerlukan keputusan pemerintah untuk libur mereka dapat saja tidak masuk kerja pada hari besar itu tampa ada yang melarangnya.

Dakwah Islam berjalan dengan terbuka. Tabligh dapat dilaksanakan bila saja . Para da i dari berbagai bangsa dapat saja memberikan ceramah agama atau dakwah tampa ada pembatasan. Demikian juga bantuan keagamaan dan menarik untuk diketahui kata Dubes RI Sudirman Haseng , di Kambodia boleh saja jika bantuan Mesjid itu oleh Muslim Malaysia dinamakan Mesjid nya Mesjid Malaysia Kambodia, bahkan nama perorangan juga tidak menjadi masalah. Demikian juga bangunan dan bantuan lainnya dapat saja diberikan label sesuai negara pendonornya.(Sudirman: 2019)

C.Kehidupan Beragama Masyarakat  Islam di Kamboja.

Ummat Islam Kamboja dapat dikatakan seluruhnya dari etnis Cam. Mata pencaharian utama pertanian dan perkebunan dan nelayan. Dewasa ini mulai ada yang merambah pada bisnis dan usaha transportasi. Pada masa Polpot terjadi pembunuhan besar besaran terhadap ummat Islam. Hampir seluruh tokoh agama dan kaum terpelajar Muslim Campa /Kambodia dibunuh demikian juga yang dipandang aktivis tampa terkecuali sisanya disebar di berbagai daerah dengan pengawasan ketat mirip camp meliter, mereka tidak boleh beribadah, masjid dihancurkan demikian juga rumah ibadah lainnya, masjid yang tersisa dibuat menjadi kandang babi, muslim yang masih hidup dipaksa makan babi, diberi makan bubur yang lebih banyak kuahnya dan diberlakukan kerja paksa yang melawan atau disangkakan melakukan penentangan  dan dibunuh. Menurut wakil mufti dalam keterangannya diperkirakan umat Islam yang sebelumnya berjumlah satu juta jiwa pasca kejadian tinggal dua ratus ribuan saja.(Sos.Kamry: 2019) Menurut catatan  resmi pemerintah Kamboja hampir tiga juta orang kamboja terbunuh. Kekejaman Polpot ini  diabadikan  dalam bentuk monument sebagai sejarah kelam kemanusiaan  perlakuan genosida yang terbesar dan terparah yang dikenal dengan the Killing Field. Berdasarkan informasi ada 200 an tempat pembantaian beberapa yang besar dibuat monumentnya seperti yang ada di kota Phenompenh dan ada juga yang lebih kecil  di kota Seim Reap dan beberapa lainnya.(Halim;2019)   

Pasca rezim Polpot dan kambodia memperoleh kebebasannya ummat Islam memulai penataan kehidupan baru dari nol karena seluruh harta benda dan juga usaha yang ada sebelum konflik telah lenyap.  Urusan kehidupan umat Islam diatur oleh urusan agama Islam  dan  pemerintah melalui kerajaan  mengangkat Mufti. Mufti Kamboja bertanggung jawab menyelenggarakan syariat Islam. Masalah pernikahan, waris dan penyelenggaraan pendidikan, termasuk memberi fatwa  tentang makanan halal. Dalam hal memberi fatwa ini mufti bekerjasama dengan tim audit yang dibentuk terdiri dari unsur dari departemen perdagangan, hukum, pertanian, kesehatan dan instansi terkait lainnya. Pihak mufti juga bekerja sama dengan Jakim (Jawatan keagamaan Islam Malaysia dan beberapa laboratorium Universitas Malaysia dan Thailand dalam menentukan produk halal ini. Sertifikat halal dikeluarkan setelah ada pensahan dari mufti dan kerajaan. (Wakil Mufti Kambodia; 2019)

Mufti juga bekerja sama dengan berbagai organisasi dakwah Kamboja yang dalam hal perjalanan mengejakan haji.   Sam In  yang menjadi sopir perjalanan kami ke Siem Reap  di waktu isterahat di distrik Kampong Cham  menyatakan setiap tahun ada 70 -80 orang kamboja mengerjakan haji. Sampai tahun 2019  ini lebih kurang berjumah 2.094 orang yang telah berhaji.(Sam In; 2019)   

            Masyarakat muslim kamboja adalah masyarakat yang dinamis dan ulet dan sangat menjaga serta that pada agama Islam yang dianutnya.  Hal ini terlihat dari pola kehidupan mereka di kawasan Chrang Chomres yang oleh mereka disebut daerah muslim KM 7, 8 dan 9. Banyak sekali terdapat masjid dan madrasah. Para wanita tetap menggunakan busana muslimah demikian juga anak anak putrinya. Dewasa ini pemukimana Muslim di Kamboja mencapai 417 Desa.  dengan rata rata tiga sampai tujuh sekolah Islam di setiap desa yang menggunakan konsep pesanteren. Tersebarnya masyarakat Islam yang secara meluas di seluruh distrik dan propinsi Kamboja ini erat kaitannya dengan pembuangan yang dilakukan Polpot pada  masa kekuasaannya sebagai bahagian dari program genoside yang dilakukan mereka. Sebahagian menetap didaerah tempat pengasingan atau pembuangan itu sebahagian kecil kembali ketempat  desa asal mereka semula. Ditempat itulah mereka mempertahankan tradisi ke Islamannya sampai seperti sekarang ini. Umumnya masyarakat Cham muslim  bermazhab Syafii. (Wk.Mufti Kambodia; 2019)    

D,Bidang pendidikan dan pengajaran Islam

Pendidikan dan pengajaran Islam berlangsung demgan baik  Saat ini di seluruh Kamboja ada 1200 sampai 1500 Madrasah Tsanawiyah dan surau (madrasah Ibtidaiyah) selain yang diselenggarakan oleh pribadi dan keluarga tertentu di rumah rumah. Masyarakat giat mengembangkan pendidikan bagi masyarakat muslim Kamboja pendidikan adalah kunci kemajuan dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Banyak juga lembaga swadaya masyarakat dari berbagai negara seperti Malaysia, uni Emirat Arab, Islamic Development Bank, Liga Muslim Dunia (Rabithah Alam Islamiy( serta sejumlah organiassi di Saudi Atabia dan Kuwait memberikan bantuan pendanaan dan bantuan  langsung membina dan membangun pendidikan Islam di Kamboja.  Pemerintahan juga menaruh perhatian yang kuat terhadap eksistensi Pendidikan Islam. Perdana Menteri  Hunsen juga mengalokasikan anggaran serta  memberikan bantuan pembangunan  gedung Madrasah Tsanawiyah yang permanent sampai tahun 2019 sudah dibangun diberbagai distrik dari 24 Provinsi yang ada   Pemerintah juga mengangkat 1500 guru agama Islam yang mengajar di Madrasah dan surau dan  yang mengajar diberbagai tempat diberi gaji perbulan Saat ini ada 1500 guru agama Islam diberikan gaji antara 200 s/d 250  dolar perbulan dan hal itu sudah berlangsung  sejak tahun 2005. Honor atau gaji juga diberikan untuk Imam dan Katib. (Wk.Mufti Kambodia; 2019)

Dalam masyarakat  Islam kamboja sudah menjadi kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan untuk belajar agama Islam terutama membaca Al-Qur an baik dalam keadaan seperti apapun Siapa saja yang dapat membaca tulisan Arab maksudnya Al-Qur an bisa menjadi guru untuk yang lainnya mengajar di rumah ataupun di surau. Demikian tutur  Rasyid salah seorang  muslim Kamboja yang mendampingi perjalanan kami ke Seam Reap. Menurut Rasyid sejak tahun 2005  Gerakan Islam Kebangsaan untuk Demokrasi Kamboja  telah berusaha menerjemahkan Al-Qur an ke dalam Bahasa Khmer . Saat ini sudah ada  yang diterbitkan. Al-Qur an dengan terjemahan bahasa Khmer itu sudah disebar keberbagai Mesjid dan Madrasah, surau  dan juga Musalla  di distrik distrik domisili masyarakat Islam.(Rasyed; 2019)

Para guru madrasah di Kamboja umumnya berlatar belakang pendidikan Timur Tengah baik dari Al Azhar Qairo, Madinah, Ummul Qura dan juga Libya, kemudian guru  tamatan berbagai universtas di Indonesia (UIN,IPB, ITB dan Universitas Bengkulu) dan Universitas di Malaysia dan banyak juga yang berlatar belakang pendidikan Pesanteren di Pulau Jawa, Terdapat hubungan kerjasama dengan beberapa pesanteren dan Universitas Islam di Indonesia seperti IAIN Sumatera Barat, Syarif Hidayatullah dan IAIN Sunan Kalijaga yang sekarang telah menjadi universitas Islam Negeri serta universitas lainnya di Indonesia dan Malaysia serta Timur Tengah.(Abduh : 2019)  

Kurikulum pendidikan Islam di Kamboja tampaknya belum terorganisasi secara baik. Belum ada kurikulum yang baku yang seragam dipakai diseluruh madrasah. Setiap madrasah mengembangkan pengajaran berbeda beda, Tergantung pada pengelola dan guru yang mengajar. Jika pengelola dan guru merupakan alumni Madrasah di Malaysia mereka  mengambil dari kurikulum Malaysia dari tingkat taman kanak-kanak atau disebut TADIKA sampai kejenjang Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Demikian juga tidak kurang madrasah yang mengambil  pola pondok pesanteren dan juga kurikulum nya karena para pengelala dan guru berasal dari pesanteren di  Indonesia. Jika pengelola dan para guru tamatan Timur Tengah maka kuurikulum yang dikembangkan mengacu ke negara tempat mereka menuntut ilmu. Sampai saat ini belum dibuka pendidikan Madrasah untuk tingkat Madrasah Aliyah berdasarkan keterangan wakil Mufti Kambodia  baru akan dirintis pelaksanaan mulai tahun ini dan insya Allah tahun depan telah mulai menerima siswa.  Selama ini untuk melanjutkan ketingkat Aliyah dan perguruan Tinggi muslim Kamboja mengirim putera puterinya belajar ke Malaysia, Pesanteren  dan Universitas di Indonesia dan Timur Tengah terutama ke Mesir. Meskipun tidak ada kurikulum yang seragam tetapi hampir semua madrasah  mengajarkan juga ilmu sain disamping  pelajaran agama. Muslim Cham saat ini memiliki lembaga pendidikan setingkat madrasah Tsanawiyah tetapi mengkhususkan  penguasaan Al-Qur an yang mereka sebut Markaz Tahfiz.   (Wk.Mufti Kambodia; 2019)

Negara Timur Tengah seperri Uni Emirat Arab,  Saudi Arabia dan juga  negara Islam lainnya seperti  Malaysia banyak memberikan bantuan bangunan gedung dan pelatihan para guru untuk madrasah di Kamboja. Beberapa tokoh Islam Malaysia ada juga yang mendirikan Madrasah Internasional seperti Madrasah International Al Ikhsan dan Madrasah Internasional al Rahman di Phnompenh. Beberapa di  distrik lainnya seperti Moimot  Di Provinsi  kampong Cam banyak relawan muslim manca negara membantu pembangunan masjid dan madrasah . Kegiatan pendidikan dan dakwah umumnya banyak diselenggarakan oleh NGO atau  lembaga swadaya masyarakat. LSM bekerja sama dengan LSM negara lain untuk mendirikan lembaga pendidikan dan mendanai kegiatan serta memberikan bea siswa. (Halim;2019) 

Dari Indonesia ada juga relawan yang memberi wakaf membangun sumber air bersih  dan juga pembangunan madrasah di Kampong Cham. Pemberdayaan ekonomi ummat banyak juga ditangani oleh lembaga Swadaya masyarakat tersebut.(Rasyid; 2019)

Kerajaan melalui pemerintah Perdana menteri Hunsen menaruh perhatian yang besar pada pendidikan dan pengajaran serta kehidupan beragama umat Islam Kambodia. Pemerintah  juga memfasillitasi berdirinya Mesjid dan membangun gedung untuk madrasah Tsanawiyah satu diantaranya  bersebelahan dengan masjid agung Asral kota Phnompenh. Menurut keterangan ada beberapa gedung yang sama dibangun Hunsen dibeberapa distrik   seperti di Kampong Cham, Baitambang,  Seim Reap. dan beberapa distrik lainnya.

Pendidikan agama non formal dalam bentuk ceramah dan juga khutbah Jum at di Mesjid  disampaikan dalam Bahasa Khemer. Namun Bahasa pengantar di Madrasah adalah Bahasa melayu dan Bahasa Arab. Dewasa ini ada lebih kurang 1600 Madrasah dan Surau serta 1590 Mesjid dan Mushala, (Rasyid; 2019)

Pendidikan di Madrasah sebahagian besar  boarding school, siswa mondok di asrama putera dan  yang puteri diasrama puteri yang telah disediakan. Kebanyakan madrasah baru di Kamboja mengambil konsep Pesanteren di Indonesia.   Namun bila ditanya tentang data guru, kemudian jumlah siswa dan jumlah  madrasah yang boarding school itu atau jika tidak mengetahui jumlah, diminta dapat menjelaskan dimana saja lokasinya yang mereka ketahui maka tidak ada penjelasan  yang konkrit. 

Jika dicermati keterangan yang diperoleh penulis dari beberapa tokoh seperti dari wakil mufti Kamboja Sos Kamry dan beberapa guru yang berkhidmat di Madrasah dan  beberapa orang aktivis Muslim Campa yang yang menyertai perjalanan penulis berserts rombongan  di Kambodia sdr. Halim Sufi, Salim, Syukri Musa dan Rasyid bahwa  para orang tua Muslim champa sangat mengutamakan pendidikan agama Islam bagi anak anak mereka dan membiasakan  putera puteri mereka untuk belajar agama dan mengetahui tentang Islam  walau  masalah sekecilnya di rumah masing masing dari orang tua. Bagi muslim Cham agama adalah  diatas segala galanya.  Tetapi bila penulis menanyakan bagaimana susunan masyakat muslim cham apakah ada pemimpin  atau ulama yang mengurus keagamaan di tiap  daerah mulai dari desa, kecamatan atau kabupaten seperti di Indonesia tampaknya mereka tidak dapat atau enggan menjelaskan. Kelihatannya ada keraguan dan trauma masa lalu yang kental dikalangan muslim Cham untuk terbuka mengenai siapa saja ulama mereka dan bagaimana struktur masyarakat mereka.

E.Partispasi masyarakat Islam Kamboja Pada Pendidikan Dan Pengajaran

1.Muslim Perahu di Sungai Mekong : semangat keagamaan dan Pendidikan.

 Dipinggiran kota Phenompenh dimuara sungai Basah  anak sungai Mekong  tinggal lima puluh  keluarga muslim cham dengan 4 – 6 orang satu keluarga. Mereka tidak memiliki tanah dan rumah tempat tinggal, mata pencaharian utama adalah menangkap ikan atau nelayan. Mereka kaum miskin dan terpinggirkan dan kesulitan mengikuti perkembangan  kemajuan karena telah tercerabut dari system social budayanya akibat kekejaman rezim komunis Polpot semasa berkuasa.   Mereka hidup bersama keluarga nya didalam perahu tidak memliki tanah lagi dikampung halamannya. Komunitas ini bertahan hidup dengan mata pencaharian menangkap Ikan di sungai Tien Lop dan anak sungai Mekong. Bersama anak keluarga berdiam di perahu dan mangkal menjadi suatu perkampungan terapung dengan rumah perahu perahu yang mereka miliki.(Halim:2019)  Ditengah perahu terapung itu ada Mushalla terapung yang sepertinya dikeling dengan perahu perahu warganya.  Mushalla terapung itu bernama Mushalla al A’la; tempat melaksanakan shalat berjamaah , mengajar anak anak mereka dan pengajian kaum ibu dan kaum bapak. serta musyawarah. Banyak pengunjung Muslim datang menjenguk dan memberikan bantuan, termasuk penulis dan rombongan dari MUI Propinsi Sumatera Utara  menyempatkan berkunjung bersilaturrahmi ke komunitas Muslim Perahu ini. Melalui Koordinator yang menerima tamu serta menggalang bentuk perhatian terhadap komunitas ini  rombongan penulis atas nama MUI SU menyumbang 40 paket sembako  yang tiap paket berisi  Mie Instan,beras, gula dan beberapa kaleng susu setara 10 US dolar.

Pendidikan para muslim perahu ini rata rata pendidikan agama tingkat rendah. Mereka secara rutin mendatangkan guru untuk mengajari anak anak mereka di Mushalla terapung  Al-A’la. Ada juga organisasi Islam yang secara rutin membuat jadwal pengajian untuk mereka pada hari tertentu.  Menurut keterangan Halim bahwa kerap kali juga Jamaah Tabligh  datang berkunjung ke tempat ini.(Halim; 2019). Sungguh sangat menarik perhatian penulis bahwa dalam kondisi kehidupan yang sangat tidak baik  dan dapat dikatakan sangat miskin itu tetapi mereka masih tetap mementingkan untuk mendirikan mushalla terapung untuk tempat beribadah, belajar agama  musyawarah dan tempat  pendidikan agama bagi mereka dan anak anaknya.  Dari sini penulis mengerti mengapa muslim Cham mampu mempertahankan kehidupan dan kelanjutan etnis dan keagamaannya meskipun para ulama , guru agama dan tokoh serta kaum terpelajar mereka pernah dihabisi oleh khemer Merah atau rezim Polpot . menurut catatan lebih delapan ratus ribu muslim Cham yang dihabisi oleh rezim Polpot ketika berkuasa antara tahun 1974- 1979. Siapa saja yang dipandang  berbahaya , melawan atau menentang dan taat menjalankan agama Islam seperti kedapatan shalat, membaca atau mengajarkan agama, memiliki data atau terdata sebagai orang yang terpelajar  akan segera dihabisi dengan berbagai alasan oleh rezim ini. Bahkan perempuan dan anak anak dari para tokoh, ulama dan guru serta kaum terpelajar Cham juga turut dibantai dengan cara keji dan biadab.  

Penulis yang berkunjung ke Mushalla dan mengikuti prosesi penyerahan paket sembako mendapati kitab suci Al- Quran dan ada juga pedoman  tahtim tahlil, surat yasin, pedoman shalat  dan juga panduan menyelenggarakan jenazah, dan beberapa kitab lainnya yang semuanya bertuliskan Arab Melayu tersusun tidak begitu rapi di rak Mushalla. Ketika penulis mencoba membacanya ternyata disusun dalam Bahasa Melayu Khmer atau Bahasa Cham aksara Arab.

2. Organisasi Muslim Tuktuk Kamboja dan Dukungan terhadap Pendidikan.

          Ekonomi masyarakat muslim Cham rata rata dibawah garis kemiskinan. Hal ini tidak mengherankan karena umat Islam kambodia ini benar benar mengalami keterpurukan pada masa khmer Merah. Harta benda dan kekayaan mereka disita, diusir dari perkampungan mereka semua asset social masyarakatnya di hancurkan dan diambil  alih. Mereka yang masih hidup dikumpulkan dan kemudian dikirim secara terpencar ke berbagai tempat untuk kerja paksa. Setelah kemerdekaan tahun 1979 mereka menghirup udara bebas dan mulai kembali membangun kehidupan dari nol. Kembali menekuni mata pencaharian utama mereka sebagai petani dan nelayan dan beberapa sebagai pedagang.  Seiring dengan pembangunan Kamboja masyarakat Islam tampaknya mengalami perkembangan yang lambat dalam sektor perekonomian. Mata pencaharian lama seperti sebagai nelayan sungai Mekong  tidak begitu menjanjikan  tetapi sebahagian besar masih bertahan sebagai petani dan peternak.    Masyarakat Muslim Campa seiring dengan perkembangan pembangunan dan kemajuan Kambodia  banyak yang memasuki lapangan kerja baru seperti menjadi buruh dan tenaga teknis, dan bisnis terutama yang berdomisii di kota kota besar. Belakangan sebahagian generasi muda tahun delapan puluhan bergerak juga dalam  home industri dan usaha kuliner seperti rumah makan halal, kemudian di beberapa kota besar Kamboja  banyak juga yang bergerak dalam kegiatan transportasi sebagai supir Tuktuk yaitu semacam alat transportasi umum seperti bajaj, becak dan sado yang dihela menggunakan sepeda motor .  Meski mereka tidak menyebut  ini suatu organisasi tetapi aktivisnya sdr. Halim Sufi menyatakan mereka membangun jaringan ke seluruh kota besar di Kambodia terutama kota wisata seperti Siem Reap  tempat Angkor Wat dan tempat atau kota lainnya.(Halim; 2019)

Mereka menjalin hubungan dengan pedagang Muslim, restorant halal  dan hotel hotel yang mendukung program halal wisata . Mereka menjalankan pekerjaan dengan professional. Karena mungkin model Tutuk nya menarik  seperti sado  tetapi yang menghela adalah  sepeda motor dalam Bahasa Khemer di sebut Romo maka umumnya turis memilih mengendarai Tuktuk  model ini baik di Phonempenh  terutama di kota Sei Reap tempat Angkor Wat    

Para supir Tutuk yang teryata semuanya adalah muslim itu kemudian berkumpul bersepakat membuat kerja bersama meski mereka tidak menyebut sebagai suatu organisasi tetapi mereka menyebut sebagai Muslim Tuktuk Kamboja. Setiap orang berkewajiban mengumpulkan dana dua reel setiap hari. Sekitar Rp 8000,-  Istilah Riel untuk mata uang ini cukup menarik karena sepertinya ada persamaan dengan mata uang Riyal Saudi Arabia. Ketika ditanyakan kepada Syukri Musa sopir Van yang membawa rombongan kami beliau menyatakan istilah atau nama mata uang itu sudah dipakai sejak kerajaaan Champa  dan kawasan Indo Cina karena adanya perdagangan yang terjadi akibat arus kedatangan sahabat Rasul yang hijrah sebahagian dari Abysenia melalui jalur laut. Muslim Cham meyakini garis keturunan mereka terhubung ke ayah mertua Rasulullah Jahsy Bin Ri’ab ayah dari Isteri rasulullah yang bernama Zainab.(Syukri ;2019)

      Menurut Syukri tujuan mereka  mendirikan organisasi Muslim Tuktuk  ada tiga yaitu mengupayakan  agar setiap supir  tutuk bila mengalami masalah seperti sakit atau kekurangan uang karena sesuatu yang mendesak atau lagi tidak mendapat uang atau mengalami kecelakaan maka mereka dapat diberikan santunan.  Mengupayakan agar  dapat membantu keluarga muslim yang miskin  dan memberikan bantuan biaya pendidikan kepada siswa tidak mampu termasuk peralatan belajar seperti buku tulis, pena dan buku pelajaran.(Halim;2019)

Sampai saat ini mereka telah dapat memberikan paket buku dan alat pelajaran kepada pelajar muslim miskin dan bea siswa kepada 214 Madrasah di Kamboja.(Syukri ; 2019)

E.Penutup

Hasil kunjungan ini sangat mengesankan dan layak menjadi bahan studi dan masukan untuk beberapa kebijakan dalam hal relasi social dan keagamaan. Beberapa hal yang menarik untuk diangkat sebagai studi Islam Asia Tenggara.

 Pemerintahan Kamboja  dibawah Perdana Menteri Hunsen sangat terbuka dan memiliki perhatian khusus tentang perkembangan  kehudupan beragama di Kamboja tampa kecuali terhadap minoritas muslim Kamboja. Bahkan melalui kementerian agama dan Budaya pemerintah memberikan bantuan pembangunan berupa gedung Madrasah, gaji dan santunan untuk guru Madrasah, Imam dan Khatib. Membantu pembangunan Mesjid dan turut memberikan dukungan kerhadap kehidupan beragama  Masyarakat Islam Minoritas Kamboja. Pemerintah juga menggalakkan program wisata halal yang ternyata mendongkrak industry wisata kamboja dengan pengunjung lebih dari 6, 3 juta wisatawan   per tahun.

            Masyarakat Muslim Kamboja diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah dan urusan kegamaannya. Pemerintah juga terbuka untuk mempersilakan bantuan kepada masyarakat Muslim Kamboja  dalam bentuk dana maupun bangunan  dan tidak menghalangi bahkan memberi kebebasan negara donor atau pendonor membuat identitas negeri atau pribadi pada bangunan dan bantuan yang diberikan. Pemerintah juga membuat acara keagamaan Islam seperti Ifthar Ramadhan dengan mengundang tokoh Islam juga mengunjungi kegiatan serta perkampungan umat Islam dan memberikan bantuan sarana prasarana social kegamaan untuk memudahkan ummat Islam Kamboja menjalankan perintah agamanya. Setiap tahun 70-80 orang masyarakat Islam Kamboja dapat mengerjakan haji

            Pendidikan dan Pengajarana Agama Islam berlangsung secara baik mulai dar pendidikan non formal sampai informal di keluarga dan formal di Madrasah madrasah  dan surau. Lembaga pendidikan yang ada banyak diantaranya mendapat bantuan dari negara Islam   seperti Kuwait, Qatar, Saudi Arabia, Islamic Development Bank , Rabitah Alam Islamiy,  Malaysia dan lembaga swadaya masyarakat dari Indonesia berupa dana, pelatihan guru maupun bangunan madrasah serta sarana sosial lainnya seperti wakaf sumur. sarana pendidikan dan rumah ibadah. Muslim kamboja sangat giat membangun sarana pendidikan dan rumah ibadah. Saat ini masyarakat muslin Kamboja  berdomisili di 417 desa Setiap desa ada 3-6 Madrasah dan masjid. Madrasah yang baru berdiri kebanyakan mengembangkan pola pesanteren seperti pesanteren di Indonesia. Tenaga guru kebanyakan tamatan  pendidikan di Malaysia , Indonesia, Madinah. Mesir, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.  Mereka mengajar sesuai dengan negara asalnya.  Sehingga tidak terdapat kurikulum yang baku terstandar secara Nasional. Buku yang dipergunakan sering mengacu ke Malaysia, atau pesanteren di Indonesia. 

Masyarakat Muslim Kamboja  sangat mengutamakan pendidikan, mazhab utama mereka adalah mazhab syafii. Dewasa ini mereka telah memiliki pesanteren Al Qur an , Markaz Tahfizhal Qur an. Mempelajari agama adalah kewajiban utama masyarakat ini. Semua anggota keluarga tidak boleh tidak dapat membaca Arab atau Al-Qur an dan berkewajian pula untuk mengajarkannya.

             Partisipasi terhadap pendidikan agama Islam  sangat besar dikalangan masyarakat muslim kamboja . Dimanapun mereka berada dan dalam kondisi apapun semangat untuk memahami agama dan mendalami ajaran agama tumbuh dengan kuatnya, Bahkan pada komunitas Muslim Perahu yang sangat rendah kemampuan ekonominya tetap  mengutamakan pendidikan agama demikian juga peranan organisasi professional seperti Muslim Tuktuk dengan jaringan kerja mereka seperti rumah makan halal, hotel dan moda transportasi serta pusat bisnis  lainnya tetap mengutamakan mendukung pendidikan.

Kedepan muslim minoritas Kamboja akan memiliki daya saing yang lebih kompetitip dan kehidupan keagamaan yang lebih maju. Insya Allah.

END NOTE

Sudirman Haseng  (2019) ; On Brief’s Explaining     Republic Embasy In Relation  Ship  Indonesia  Republic and Kingdom Of Cambodia  to Delegating Multaqa Ulama  Asean MUI North Of Sumatera Indonesia, Phenompenh : ,RI Embasy Building 09 September 2019)

Sudirman Haseng  (2019) ;Islamic Minority in Kingdom of Cambodia; on Delegating Multaqa of Ulama Asean MUI North Of Sumatera Indonesia Meeting , Phenompenh : ,RI Embasy Building 09 September 2019)

Sudirman Haseng  (2019) ;  On Halal Toursme ‘s Kingdom  of Cambodian Policy); on Delegating Multaqa of Ulama Asean MUI North Of Sumatera Indonesia Meeting , Phenompenh : ,RI Embasy Building 09 September 2019)

Sudirman Haseng  (2019) ;  Hunsen  Prime Minister ‘s Kingdom  ofCambodian on  Islamic Atention ); in  Delegating Multaqa of Ulama Asean MUI North Of Sumatera Indonesia Meeting , Phenompenh : ,RI Embasy Building 09 September 2019)

Syukri Musa, (2019), A Moeslem Respect to Hunsen Prime Minister’s Kingdom Of Cambodia , interviewer Fachrddin Azmi , Phenompenh :  Le Grand Palais, 09 September 2019)

Sos Kamry (2019) , Explaining About Moeslem Cham  In Kingdom of Cambodia, in  Delegating Multaqa of Ulama Asean MUI North Of Sumatera Indonesia with Mufti Moeslem Cambodia Meeting , Phenompenh, Chrang Chomres Mufti Cambodian Office, 09 September 2019)

Halim Soufi (2019), Moeslem Cambodian on Genoside Priode :Polpot’s Rezime Khemer Rouge, 1974-1979, interviewer Fachrddin Azmi , Phenompenh :  Le Grand Palais, 09 September 2019

Deputy Mufti  Cambodian’s Moelem, Mufti Cambodian  Function andActivties in  Delegating Multaqa of Ulama Asean MUI North Of Sumatera Indonesia with Mufti Moeslem Cambodia Meeting Phenompenh, Chrang Chomres Mufti Cambodian Office, 09 September 2019) Sam In , (2019)  About Cham Moeslem Pilgrametes to Makkah,

 Interviewer Fachrddin Azmi , Phenompenh :  Le Grand Palais, 11 September 2019)

Deputy Mufti  Cambodian’s Moelem  (2019), Nowadays Condition ofCham Moeslem Society,   in  Delegating Multaqa of Ulama Asean MUI North Of Sumatera Indonesia with Mufti Moeslem Cambodia Meeting Phenompenh, Chrang Chomres Mufti Cambodian Office, 09 September 2019)

Deputy Mufti  Cambodian’s Moelem,    Moeslem Education Cambodian ; Depeloving and Innovation,   in  Delegating Multaqa of Ulama Asean MUI North Of Sumatera Indonesia with Mufti Moeslem Cambodia Meeting Phenompenh, Chrang Chomres Mufti Cambodian Office, 09 September 2019)Rasyid, Al-Quran  Interpertation in Khemer Language, Interviewer

Fachrddin Azmi, Seim Reap, Restourant Halal Siem Reap11 September 2019 Deputy Mufti  Cambodian’s Moelem,   Curiculum Moeslem Education Cambodian ;Madrasah,surau and Ma’had, Interviewer fachruddin Azmi, Phenompenh, Chrang Chomres Veranda Mufti Cambodian Office, 09 September 2019)

Abduh  Lubis  (2019)   Teachers and  lecturers of  Madrasah and Ma’had  in Cambodia Educational Back Ground, a Talking with especialy secretary of Repblic Indonesia embasy in  Cambodia Phenompenh, Chrang Chomres Veranda Mufti    Cambodian Office, 09 September 2019)

Deputy Mufti  Cambodian’s Moelem,   Markaz Tahfizul al Qur an in Cambodia ; Interviewer fachruddin Azmi, Phenompenh, Chrang Chomres Veranda Mufti Cambodian Office, 09 September 2019)

Halim Soufi,    Islamic  NGO   for Moeslem Cambodian Society,interviewer Fachrddin Azmi , Phenompenh  Le Grand Palais,    09 September 2019)

Halim Soufi,   Moeslem Boating  Social Religiosness Interviewer Fachruddin Azmi, Phenompenh ; 10 September 201

Halim Soufi,   Mushalla  Al A’la ,islamic centre for Moeslem Boating Interviewer  fachruddin Azmi, Phenompenh ; 10 September 2019

Syukri Musa, (2019)  Moelem Tuktuk Cambodia Interviewer Fachruddin Azmi, Phenompenh ; 10 September 2019

Halim Soufi, Moelem Tuktuk Cambodia Dedicated For Teaching and Learnng Toword High Quality  Islamic Society Cambodia  Future, Interviewer  fachruddin Azmi, Phenompenh ; 10 September 2019

Syukri Musa, (2019)  Moelem Tuktuk Cambodia; Progress and Prestation during Five Years  Interviewer  fachruddin Azmi, Phenompenh ; 10 September 2019