Wednesday, 28 October, 2020

NILAI-NILAI AKHLAK DALAM MENCARI HARTA (Fikih Muamalah Bag.9)


Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Umum MUI Sumut)

RIBA DAN FITRAH

Fitrah atau naluri yang sehat mengharamkan riba. Karena orang yang meribakan uangnya senantiasa menunggu-nunggu kesulitan orang lain dan tidak mengharap dan berusaha agar orang lain mendapat kebaikan.

Orang Arab dimasa Jahiliyahpun sudah mengetahui bagaimana buruknya harta hasil riba itu. Karena itulah ketika mereka akan merehab kembali bangungan Ka’bah yang rusak dilanda banjir, mereka menetapkan bahwa syarat pertama dari rehab itu ialah “tidak menerima semua bentuk sumbangan/harta dari orang yang meribakan hartanya” dengan demikian rahab Ka’bah bersumber dari dana yang suci. Ini adalah contoh fitrah yang suci.

Ketika Islam datang iapun mengutuk riba sejak periode da’wah pertama di Mekkah. Ar Rum: 39. ”Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.

Jelaslah bahwa pedoman yang diberikan Alqur’an di- Makkah sesuai dengan keadaan kaum muslimin yang berada di- kota tersebut. Tatkala Negara Islam telah berdiri di kota Madinah, Islampun menetapkan keputusan mutlak yang tak dapat ditawar dalam masalah riba. Riba dilarang dan haram hukumnya.

Keputusan mutlak tersebut berupa ayat Alqur’an yang dibaca dan pengamalannya dalam kehidupan. Allah berfirman:

Al Baqarah: 278-281. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”

Dalam arena penerapan amaliyah syariah Islam, nabi Muhammad Saw. menyatakan bahwa segala bentuk riba adalah haram dan pemilik modal hanya boleh mengambil sebesar modalnya saja. Pantas pula kita catat disini, keputusan tersbeut, mula-mula ditetapkan Nabi kepada pamannya sendiri, yaitu Abbas bin Abul Mutalhib. Nabi bersada:

Seluruh bentuk riba haram, riba Abbas juga haram seluruhnya”

Timbangan dan Ukuran

Sebagai agama yang mengedepankan akhlak sebagaimana Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak manusia, hal ini juga berlaku pada hal transaksi perniagaan. Dalam jual beli timbangan dan ukuran adalah dua hal yang rawan terjadi penipuan. Bagi penjual atau pedagang mengurangi timbangan ataupun ukuran adalah hal yang mudah, belum lagi modus-modus lainnya seperti mengoplos barang yang baik dengan yang tidak baik, dan sebagainya. Ironisnya sebahagian pedagang menganggap hal ini adalah bahagian dari startegi dan keuntungan.

Islam melarang keras penipuan seperti ini, sebagaimana firman Allah:

Al Muthafifin: 1-3 ”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

Mengurangi ukuran dan timbangan adalah perbuatan penipuan, perbuatan ini tidak berkat dan akan menutup pintu hidayat. Dalam konsep Islam di samping memperoleh keuntungan duniawi juga harus mencari keuntungan ukhrawi atau mencari ridha Allah, Harta yang diberkati Allah akan membawa ketenangan dan keamanan jiwa. Oleh sebab itu lebih lanjut Allah menegaskan dalam surat Al Syuara: 181-182 “Hendaklah kamu menyempurnakan sukatan dan jangan menjadi golongan yang merugikan orang lain. Dan timbanglah dengan neraca yang benar”

Pembeli tidak diperbolehkan memaksa dan menipu penjual serta mengurangi harta. Hud: 85. dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Apabila golongan materialis berkata; Hidup adalah kesempatan, dan penjual menerima sembarang harga. Maka iman yang bergetar di dalam hati akan menjawab dengan ayat. Hud: 86. ”Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu”

Mengharamkan Menimbun Barang (Monopoli)

Pemilik harta tidak diperkenankan menimbun bahan makanan pokok manusia dengan tujuan agar harga melonjak naik. Islam sangat menentang penimbunan barang, dalam sebuah hadis shahih dijelaskan  bahwa:

لا يحتكر الا مخططئ      

”Tidak mau menimbun barang kecuali orang yang bersalah/berdosa”

(HR. Ibnu Majah & Muslim)

من احتكر اقوات المسلمين اربعين يوما ثم تصدق بها لا يقبل الله منه

”Barang siapa yang menimbun bahan makanan pokok kaum muslimin selama 40 hari kemudian disedekahkannya makanan tersebut. Allah tidak akan menerimanya”

Praktek penimbunan (monopoli) haram apabila memenuhi tiga syarat di bawah ini:

  • Yang dimonopoli terdiri dari barang-barang keperluan seseorang selama setahun, karena penyimpanan barang keperluan tidak lebih dari tempoh tersebut.
  • Pembekuan barang pada masa permintaan di pasar rendah dan dikeluarkan pada masa permintaan meningkat dan harga melambung
  • Monopoli dilakukan pada masa masyarakat benar-benar memerlukan barang tersebut, khususnya barang barang kebutuhan pokok (sembako)

Mengharamkan Pengembangan Harta yang Membahayakan Masyarakat

Demi menjaga hak-hak masyarakat, Islam mengharamkan pemilik harta mengembangkan atau membelanjakan hartanya terhadap yang membahayakan masyarakat. Baik bahaya itu terhadap agama seperti menjual buku-buku yang isinya menyesatkan dan membawa kekafiran atau terhadap akal seperti menjual khamar dan candu, maupun terhadap kekuatan seperti menjual senjata terhadap musuh.

Islam menyatakan Ekonomi dengan Aqidah tidak terpisah, dan menjadikan hati kecil seorang muslim sebagai pengawas dalam menggunakan harta. Alqur’an merekam dialog yang indah antara nabi Syu’ib dengan kaumnya.

Hud: 84. ”Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka, Syu’aib. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya aku melihat kamu dalam Keadaan yang baik (mampu) dan Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).”

Hud: 85,87. ”Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu”.  Mereka berkata: “Hai Syu’aib, Apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar Kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak Kami atau melarang Kami memperbuat apa yang Kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat Penyantun lagi berakal”

Jelaslah tergambar dari ayat ayat tersebut bahwa kaum Nabi Syu’aib kaget ketika beliau menganjurkan mereka mengatur pemakaian harta yang dapat menjaga hak-hak masyarakat dan orang fakir.

Di samping itu ayat ini juga menghubungkan Aqidah dan penerapan aktivitas dengan keimanan, karena pemecahan masalah-masalah ekonomi berdasarkan tuntunan Alqur’an adalah suatu bukti kebenaran Iman dan merasuknya Iman kedalam Hati.

Inilah yang dimaksud oleh dialog pada ayat yang lalu. Memang Alqur’an mengatasi kesulitan-kesulitan dewasa ini dengan memaparkan kejadian-kejadian yang lalu dan inilah sebagian dari tujuan cerita-cerita yang termaktub dalam Alqur’an.

Pembekuan dan Pencairan

Demi menghormati hak masyarakat terhadap harta, Islam membenci pembekuan harta. Karena pengembangan harta dalam hal-hal yang produktif adalah pelaksanaan tuntutan harta tersebut.

Islam telah mewajibkan zakat dari harta simpanan yang tidak digunakan untuk proyek-proyek yang bermanfaat, digunakan untuk produksi. Tujuannya agar pemilik-pemilik modal mau mengembangkan harta mereka.

Harta simpanan tiap tahunnya berkurang 1/40 untuk pembayaran zakat. Nabi telah memerintahkan para penanggung jawab harta anak yatim memperdagangkan hartanya hingga tidak habis karena pembayaran zakat.

Islam  mencabut hak milik atas tanah pertanian yang diberikan pemerintah kepada orang yang sanggup (mengusahakannya)/menghidupkannya, tetapi setelah berlalu masa 3 tahun tanah tersebut belum juga ditanami. Islam mencabut dan memberikannya kepada orang yang akan menananamnya/ mengolahnya.

Menguasai tanah pertanian dan membiarkannya tanpa tanaman adalah suatu kezaliman terhadap masyarakat yang menanti hasilnya. Hal ini berarti kezaliman pula terhadap orang fakir yang menanti hasilnya agar ia mendapat bahagiannya. Pembekuan harta dengan alasan apapun adalah penyelewenangn dari pelaksanaan tuntutan harta.

BACA JUGA:

  1. Fikih Muamalah Bag. 1 – Agama itu adalah Muamalah
  2. Fikih Muamalah Bag. 2 – Konsep Harta dan Uang Dalam Islam
  3. Fikih Muamalah Bag. 3 – Kewajiban Bekerja
  4. Fikih Muamalah Bag.4 – Anjuran Memberi
  5. Fikih Muamalah Bag.5 – Tawakal dan Tawakul
  6. Fikih Muamalah Bag.6 – Kepemilikan
  7. Fikih Muamalah Bag.7 – Ihrazul Mubahat
  8. Fikih Muamalah Bag.8 – Perdagangan & Jasa
  9. Fikih Muamalah bag.9 – Nilai Nilai Dalam Mencari Harta
  10. Fikih Muamalah Bag.10 – Harta Yang Diperoleh Tanpa Bekerja / Warisan
  11. Fikih Muaalah Bag.11 – Penggunaan Harta
//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?