PERDAGANGAN & JASA (Fikih Muamalah Bag. 8)

0
4.690 views

Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Umum MUI Sumut)

Akad menurut bahasa adalah ikatan antara dua perkara, baik ikatan secara nyata maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi maupun dari dua segi.[1]  Menurut terminologi ulama fiqh akad dapat ditinjau dari dua segi, yaitu secara umum dan secara khusus.

Secara umum pengertian akad menurut pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah, yaitu segala sesuatu yang dikerjakan sendiri, seperti wakaf, talak, pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua orang seperti jual-beli, perwakilan, dan gadai.[2] Sedangkan dalam arti khusus adalah perikatan yang ditetapkan ijab qabul berdasarkan ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya.[3]

Dari pengertian di atas yang perlu dijelaskan adalah tentang definisi ijab qabul dan dampaknya. Ijab dan qabul adalah pernyataan yang keluar dari orang yang menyerahkan benda, baik dikatakan oleh orang pertama atau kedua, sedangkan qabul adalah pernyataan dari orang yang menerima barang. Ijab Qabul ini dapat dilakukan dengan lisan (shighat akad), dengan perbuatan (misalnya penjual memberikan barang dan pembeli memberikan uang), dengan isyarat (bagi yang tidak mampu berbicara), dan sengan tulisan,

Sedangkan dampak adalah segala sesuatu yang mengiringi setiap atau sebagian besar akad baik dari segi hukum maupun hasil. Misalnya pemindahan kepemilikan dalam jual-beli, wakaf, upah, dan lain-lain.

Dalam tulisan ini akan lebih dofokuskan kepada usaha untuk mencari harta melalui akad dan ini ada beberapa hal yang utama:

Al Bay’ (Jual-Beli)

Jual-beli salah satu cara memperoleh harta yang terpenting dan terluas. Segala kegiatan ekonomi boleh dikatakan tidak terlepas dari jual-beli. Bahkan seorang petanipun tidak dapat melepaskan dirinya dari jual-beli, baik langsung maupun tidak. Meski hidupnya tidak bergantung pada jual-beli, ia tidak dapat mengelakkan dari barang-barang keperluan lain seperti pakaian dan alat-alat pertanian.

Jual-beli merupakan suatu kegiatan yang lentur dari segi tempat dan suasana. Transaksi dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja oleh siapa saja sesuai dengan persyaratan dan perkembangan zaman. Barang yang diperdagangkan juga sangat luas, apapun yang memiliki nilai ekonomis dapat diperdagangankan,[4] kecuali barang yang najis. Hal ini juga menjadikan Rasulullah Saw. bersabda ”Sembilan persepuluh sumber rezeki terletak pada dunia perdagangan”

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefiniskan jual-beli, berikut beberapa definisi yang penulis kutip: Sayyid Sabiq mengartikan jual-beli dengan pertukaran barang dengan barang (atau harta dengan harta, atau harta dengan barang), dengan persetujuan kedua belah pihak (penjual dan pembeli), atau pertukaran milik dengan gantian/ bayaran (mubadalah).[5]

Perdagangan adalah suatu kegiatan jual beli antara dua pihak, (penjual dan pembeli),[6] pertukaran dalam bentuk uang dengan barang atau barang dengan barang[7] baik barang barang berwujud, belum, atau tidak berwujud.[8] Merupakan satu bentuk prosedur perputaran modal, memperluas modal  dengan tujuan keuntungan untuk tujuan keuntungan [9]

Dalil Alqur’an  

Al Baqarah (2): 275 ”Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”

An Nisa (4): 29 ”Kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka-sama suka”

سئل النبي ص.م.: اي الكسب أطيب؟ فقال: عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور

Nabi Saw. ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik, Beliau menjawab, Seorang bekerja dengan tanganya dan setiap jula beli yang mambrur (HR Bajjar, Hakim mensahihkannya dari Rifaah Ibn Rafi)

وانما البيع عن تراض

Artinya: Jual beli harus dipastikan harus saling meridhai (HR Baihaqi dan Ibn Majah)

Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.

Hukum Jual beli

Ditinjau dari hukum dan sifat jual beli, jumhur ulama membagi jual beli menjadi dua macam, yaitu jual beli yang dikategorikan sah (shahih) dan jual beli yang dikatagorikan tidak sah (fasid). Jual beli sah adalah jual beli yang memenuhi ketentuan syara’ baik rukun maupun syaratnya sedangkan jual beli yang tidak sah adalah jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukun.

            Jual beli yang dilarang dalam Islam dapat dikarenakan

  1. Subjek si pelaku (ahliyah) misalnya, jual beli orang gila, anak kecil, terpaksa, orang yang dibawah pengampuan (bodoh), jual beli malja (orang yang sedang dalam bahaya, yakni untuk menghindari perbuatan zalim), jual- beli fudhul (tanpa izin si pemilik).
  2. Sebab shighat. Ulama fiqih sepakat atas sahnya jual beli yang didasarkan pada keridhaan di antara pihak yang melakukan akad, ada kesesuaian di antara ijab dan qabul.
  3. Sebab objek barang (ma’qud alaih). Ulama sepakat bahwa jual beli dianggap sah apabila ma’qud alaih adalah barang tetap atau bermanfaat, berbentuk, dapat diserahkan, dapat dilihat oleh orang-orang yang akad, tidak bersangkutan dengan milik orang lain, dan tidak ada larangan dari syara’
  4. Sebab syara’. Ulama sepakat membolehkan jual-beli yang memenuhi persyaratan dan rukunnya, dan tidak boleh bertentangan dengan syara’ seperti jual beli riba, jual-beli dengan uang dari barang yang diharamkan, jual beli waktu salat jum’at, jual beli anggur untuk dijadikan khamr, jual beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain, jual beli memakai syarat.

Ijarah (Sewa Menyewa)      

Ijarah atau menjual manfaat sering diartikan sebagai akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud  tertentu dan mubah, serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu[10] Karena ijarah adalah menjual manfaat, maka yang boleh disewakan adalah manfaatnya bukan bendanya.[11] Ijarah dapat dibagi menjadi dua macam yakni ijarah atas jasa dan ijarah atas benda

Dibolehkan ijarah atas barang mubah, seperti kamar, rumah, kendaraan, tanah dan lain-lain, akan tetapi dilarang terhadap benda-benda yang diharamkan. Juga dibolehkan ijarah atas jasa seperti, menjahitkan baju, membangun rumah, dan sebagainya.

Ijarah ini berakhir dengan selesainya waktu, terjadinya kerusakan pada barang yang disewa, pembatalan akad, dan meninggalnya salah seorang yang berakad.

Dalil

At Thalaq (65): 6, “Jika mereka menyusukan (anak-anakmu) untukmu, maka berikanlah mereka upahnya”

Al Qhashas (28) :26,27 ”Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Berkatalah Dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku Termasuk orang- orang yang baik”.

اعطوا الاجير اجره قبل ان يجف عرقه

Artinya: ”Barikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya” (HR. Ibn Majah dari Ibn Umar)

من استأجر اجيرا فليفعل اجره

Artinya: ”Barang siapa  yang meminta untuk menjadi buruh, berikanlah upahnya” (HR. Abd Razak dari Abu Hurairah)

Umat Islam pada masa sahabat telah ber-ijma bahwa ijarah dibolehkan sebab bermanfaat bagi manusia.

Syirkah (Perkongsian)

Syirkah atau percampuran adalah bercampurnya salah satu dari dua harta dengan harta lainnya, tanpa dapat dibedakan antara keduanya. Menurut Hanafiyah perkongsian adalah ungkapan tentang adanya transaksi (akad) di antara dua orang yang bersekutu pada pokok harta dan keuntungan.[12]

Perkongsian terdiri dari dua macam, yakni perkongsian kepemilikan dan perkongsian kontrak. Perkongsian kepemilikan adalah dua orang atau lebih yang memiliki barang tanpa adanya akad. Perkongsian ini dapat berupa sukarela (kontrak dari dua orang yang bersekutu) dan dapat pula bersifat pakasaan (dua orang mewariskan sesuatu). Jenis perkongsian ini adalah salah seorang yang bersekutu seolah-olah sebagai orang lain. Oleh karena itu salah seorang di antara mereka tidak boleh mengolah (mentasarufkan) harta perkongsian tersebut tanpa izin temannya.

Kedua, perkongsian akad, yakni merupakan bentuk transaksi yang terjadi antara dua orang atau lebih untuk bersekutu dalam harta dan keuntungannya. Perkongsian ini dapat dbagi menjadi :

  1. Syirkah ’Inan, yaitu persekutuan di antara dua orang dalam harta milik untuk berdagang secara bersama-sama, dan membagi laba atau kerugian bersama-sama.
  2. Syirkah Mufawafah, yaitu persekutuan di antara dua orang atau lebih untuk berserikat dengan syarat memiliki kesamaan dalam jumlah modal, keuntungan, pengolahan, serta agama yang dianut
  3. Syirkah Wujuh, yaitu persekutuan dua pemimpin (orang yang dipercaya) dalam pandangan masyarakat tanpa modal, untuk membeli barang secara tidak kontan, kemudian keuntungan yang diperoleh dibagi di antara mereka dengan syarat tertentu
  4. Syirkah A’mal atau Abdan, yaitu persekutuan dua orang untuk menerima suatu perkerjaan yang akan dikerjakan secara bersama-sama. Kemudian keuntungan dibagi di antara keduanya dengan menetapkan persyaratan tertentu. Perkongsian ini disebut juga persekutuan shana’i dan taqabbul.

Dalil

An Nisa (4): 12, ”Mereka bersekutu dalam sepertiga”

Shad (38): 24. ”Dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini.”

عن أبى هريرة رفعه الى النبي ص.م. قال: ان الله عز وجل يقول: أناثالث الشريكين مالم يخن أحدهما صاحبه فإذا خانه خرجت من بينهما.

Artinya: “Dari Abu Hurairah yang dirafa’kan kepada Nabi Saw. bahwa Nabi Saw. bersabda “Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Aku adalah yang ketiga pada dua orang yang bersekutu, selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati sahabatnya, Aku akan keluar dari persekutuan tersebut apabila salah seorang mengkhianatinya.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Baca Juga:

  1. Fikih Muamalah Bag. 1 – Agama itu adalah Muamalah
  2. Fikih Muamalah Bag. 2 – Konsep Harta dan Uang Dalam Islam
  3. Fikih Muamalah Bag. 3 – Kewajiban Bekerja
  4. Fikih Muamalah Bag.4 – Anjuran Memberi
  5. Fikih Muamalah Bag.5 – Tawakal dan Tawakul
  6. Fikih Muamalah Bag.6 – Kepemilikan
  7. Fikih Muamalah Bag.7 – Ihrazul Mubahat
  8. Fikih Muamalah Bag.8 – Perdagangan & Jasa
  9. Fikih Muamalah bag.9 – Nilai Nilai Dalam Mencari Harta
  10. Fikih Muamalah Bag.10 – Harta Yang Diperoleh Tanpa Bekerja / Warisan
  11. Fikih Muaalah Bag.11 – Penggunaan Harta

[1] Wahbah al Juhaili, al Fiqh al Islam wa Adillatuh, juz IV, Damsyik, Dar al Fikr, 1989, hal. 80

[2] Ibnu Taymiyah, Nazhariyah a Aqdu, hal. 18-21

[3] Ibn Abidin, Radd al Mukhtar, al Dar al Muhtar, juz II, hal. 355, lihat juga al Kamal Ibnul Humam, Fath al Qadir, juz V, hal. 74

[4] Sobri Salamon, Perniagaan Menurut Pandangan Islam, Bahagian Hal Ehwal Islam Jabatan Perdana Menteri, Selangor, cet III, 1992, hal. 16

[5] Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, jilid III, hal. 46

[6] Imam al Qurtubi, al Jami lil Ahkam, jilid V, hal. 149

[7] Al Shaybani, al Iqna, hal. 195

[8] Imam al Razi, Mafatih al Ghaib, jilid I, hal. 338

[9] Ibn Khaldun, al Muqaddimah, hal. 331

[10] Ini menurut ulama Syafi’i, lihat Muhammad Asy Syarbaini, Mughni al Muhtaj, juz II, hal. 332

[11] Oleh sebab itu dilarang menyewakan pohon untuk diambil buahnya ataupun menyewakan domba untuk diambil susunya, lihat Ibn Abidin, Radd al Mukhtar ala Dur al Mukhtar, juz IV hal. 110

[12] Ibn Abidin, Radd al Mukhtar, Dar al Mukhtar, juz III, hal. 364