Wednesday, 28 October, 2020

PENGGUNAAN HARTA (Fikih Muamalah Bag.11)


Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Umum MUI Sumut)

Harta Adalah Pemberian Allah Kepada Manusia.

Allah menyatakan bahwa ia yang membagi harta itu untuk pertama kali. Diberi-Nya kepada siapa yang ia kehendaki sesuai dengan kehendak-Nya

An Nahl (16): 71. “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?.

Rezeki yang diberikan Allah kepada manusia tidak sarna, maka agar tidak harta itu berkisar atau beredar pada orang-orang kaya saja (yang banyak harta) maka perlu diadakan pembagian kembali

Al Hasyr: 7 ”Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di-antara kamu.”

Dalam pembagian harta ini telah digariskan Allah:

  1. Dengan cara pembagian warisan
  2. Dengan cara mengeluarkan zakat
  3. Dan hak-hak lain pada harta yang diatur oleh negara dalam urusan keduniaan, diambil dari orang kaya digunakan untuk kepentingan-kepentingan umum. Termasuk dalam hal ini infaq, shadaqah, hibah dan lain-lainnya.[1]

Harta menurut pandangan Islam adalah “wasilah” (perantara) bukan tujuan akhir. Harta itu dipandang membawa kebaikan apabila ia berada di tangan orang mukmin dan dinafkahkannya kepada jalan kebaikan, agar supaya dia mendapat kebajikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan masyarakat lainnya terutama kaum dhu’afa.

Adapun tujuan hidup seorang muslim adalah satu yaitu berbakti dan mengabdi kepada Allah Swt. untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Dalam surat Al-Zaariyat ayat 56 dijelaskan: ”Aku tidak menciptakan jin dan manusia. me!ainkan untuk berbakti kepadaku”

Dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana cara penggunaan harta. Secara garis besar harta dapat digunakan untuk dua macam yaitu wajib dan sunnat

Beberapa Pengertian Ibadah Maliyah

Infaq; memberikan secara suka rela terhadap sesuatu kebutuhan masyarakat, tanapa batas dan tanpa  waktu tertentu, menurut yang diinginkan, seperti berinfaq untuk pembangunan mesjid, madrasah, panti asuhan dan lain-lainnya, hanya mengharap ridha Allah SWT. Hukumnya adalah sunnat

Shadaqah biasa, adalah pemberian sukarela tanpa batas dan waktu tertentu yang lebih mengarah kepada membantu yang kurang mamapu/ yang tidak mampu. Baik berbentuk materi ataupun non materi hanya mengharap ridha Allah SWT, seperti membantu fakir miskin, orang sakit, orang dalam kesulitan dan sebagainya. Hukumnya adalah sunnat

Shadaqah Jariyah (waqaf)

Pengertian Wakaf ialah menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya dengan tidak mengurangi dirinya dan tidak akan dilakukan jual beli, hibah, dan sebagainya terhadap dirinya. Untuk digunakan pada sesuatu yang mubah, yang telah ada.[1]  

Shadaqah yang diambil dari harta  yang tetap, baik yang bergerak ataupun tidak bergerak untuk diambil manfaatnya terus menerus dan bendanya tetap, tidak boleh dijual, diwariskan ataupun dihibahkan, seperti tanah, sawah, kebun, rumah, kitab/buku, alat-alat dan sebaginya. Dinamakan “jariyah” karena orang yang memberikannya dakan menerima pahala terus menerus selama benda/ harta itu masih ada dan bermanfaat, walaupun orang yang memberikannya sudah meninggal dunia. Nabi dalam sebuah hadis riwayat Muslim menyatakan:

اذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية وعلم ينتقع به وولد صالح يدعوله

Artinya:

Bila mati anak Adam (manusia) putuslah amalnya selain dari tiga macam, yaitu shadaqah jariyah (waqaf) atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shaleh yang mendoakannya.

Wakaf adalah ibadah sunnat yang sangat dianjurkan, karena pahalanya berkelanjutan

Hibah; ialah memberikan sesuatu untuk menjadi milik orang lain dengan maksud berbuat baik yang dilakukan semasa hidup orang yang memberi. Hibah adalah pemberian yang diberikan oleh seseorang dengan sukarela baik kepada keluarganya atau kepada orang lain, yang merupakan ibadah maliyah yang erat kaitannya dengan kehidupan keluarga dan masyarakat. Adalah ibadah sunnat dari harta yang dimiliki.

Wasiat; ialah pemberian seseorang untuk amal kebajikan kepada orang lain atau pihak tertentu yang berlaku setelah orang yang bersangkutan meninggal dunia dalam jumlah tidak lebih dari   1/3  harta

Arsyad Tahlib Lubis mengatakan: “Wasiat ialah berbuat amal kebajikan dengan sesuatu hak yang akan diberlakukan sesudah mati”. Dalam al qur’an maupun hadis banyak dianjurkan berwasiat lebih-lebih bagi yang punya harta yang banyak. Berwasiat adalah kesempatan terakhir bagi orang akan meninggal dunia atau sakit keras untuk berbuat baik dengan hartanya sebelum ia meninggal dunia. Hukumnya adalah sunnat

Hadiah, Pemberian sukarela yang diberikan kepada orang yang berprestasi sebagai imbalan atas prestasinya, atau kepada orang yang telah berbuat baik, untuk lebih mendorong lagi agar ia lebih banyak berbuat baik lagi dari hartanya. Hukumnya adalah sunnat

Kaffarat, suatu tebusan yang wajib dibayarkan terhadap sesuatu pelanggaran tertentu seperti merusakkan puasa Ramadhan dengan sengaja seperti dengan berbuka atau jima’ disiang hari Ramadhan, atau melanggar sumpah dan sebagainya.

Kaffarat ada 3 macam

  1. memerdekakan hamba
  2. puasa 2 bulan-atau 3 hari
  3. memberi makan 60 orang miskin, atau 10 miskin, sesuai surat al Maidah ayat 89 dan sn-Nisa 92 dan lain-lain

Hukumnya adalah wajib

Fidyah, ialah pengganti dari sesuatu yang tidak bisa dikerjakan, maka membayar fidyah, seperti orang yang tidak sanggup puasa maka diwajibkan membayar fidyah memberi makan fakir miskin setiap hari seorang fakir miskin atau tidak dapat mengerjakan ibadah haji karena sakit dan sebaginya (lihat al Baqarah 196-184). Hukumnya adalah wajib, ada juga fidyah sunnat, seperti fidyah sembahyang dan puasa yang sering dilakukan ketika seorang telah meninggal dunia.

Dam, adalah pembayaran terhadap sesuatu pelanggarn atau meninggalkan suatu kewajiban, maka wajib membayar “dam” seperti meninggalkan sesuatu yang diwajibkan dalam berhaji, atau melanggar suatu larangan seperti meninggalkan bermalam di Mina, atau memakai pakaian berjahit dan sebagainya, demikian juga Haji Tamttu’ dan Qiran, wajib membayar “dam” dengan menyembelih seekor kambing, diberikan kepada fakir miskin. Hukumnya adalah wajib

Diat, pengganti darah pada pembunuhan apabila dimaafkan oleh ahli waris terbunuh atau penganiayaan terhadap anggota tubuh manusia

Pengertian diat; ialah harta yang wajib dikeluarkan karena melakukan pembunuhan atau melukai.

  1. Diat membunuh seorang laki-laki muslim dengan sengaja ialah diat berat, yaitu seratus ekor unta dengan pembagian, 30 ekor unta betina berumur 4 tahun, 30 ekor unta betina berumur 3 tahun dan 40 ekor unta yang sedang mengandung. Dibayar oleh pembunuh kepada ahli waris yang terbunuh dengan tunai.
  2. Diat membunuh serorang laki-laki beragama Islam menyerupai sengaja juga diat berat seperti di atas, hanya diberi tempo selama 3 tahun
  3. Diat pembunuhan tersalah adalah diat ringan, yaitu seratus ekor unta dengan 5 katagori masing-masing 20 ekor unta, dan boleh bertempo 3 tahun
  4. Diat Yahudi dan Nasrani ½ “Diat” muslim
  5. Diat orang Nasrani, Majusi Zindik (Komunis) 1/15 diat Muslim
  6. Diat budak/hamba, ialah harganya.

Nazar ialah mewajibkan sesuatu ibadat yang tidak wajib ia mengerjakannya dengan khusus dengan nazar tersebut ibadah itu menjadi wajib dikerjakannya, seperti berkata: “aku wajib bersedekah pada si A seratus rupiah” Nazar terbagi kepada dua macam:

  1. Nazar Lajaj, yaitu nazar yang mengandung maksud mendorong berbuat sesuatu atau merintanginya, demikian juga nazar memastikan sesuatu berita dengan mewajibkan sesuatu amal kebajikan. Misalnya; jika aku tidak memasuki masjid itu aku wajib bersedekah seratus rupiah. Contoh lain; jika aku memasuki rumah itu aku wajib puasa karena Allah- atau jika kejadian itu tidak benar seperti kukatakan, aku wajib bersedekah kepada fakir miskin.
  2. Nazar Tabarru”, yaitu mewajibkan sesuatu amal kebajikan dengan menggantungkan kepada sesuatu kejadian yang disukai atau dengan tidak meggantungkan kepada sesuatu. Misalnya; “jika disembuhkan penyakitku aku wajib puasa sepuluh hari”, atau katanya: “Aku wajib bersedekah seratus rupiah karena Allah”

Kedua bentuk nazar ini wajib dilaksanakan.

  • Nazar lalaj- wajib dilaksanakan atau membayar kafarat sumpah
    • Nazar tabarrur wajib dalaksanakan apa yang dinazarkan

Kaffarat sumpah, orang yang melanggar sumpah wajib membayar kaffarat yaitu:

  1. memerdekakan seorang budak muslim yang sehat
  2. memberi makan 10 orang miskin setiap muslim secupak
  3. memberi pakaian kepada 10 orang miskin untuk setiap orang satu  helai pakaian.

Ghurrah; diat terhadap pelaku kejahatan terhadap janin dalam kandungan seperti penganiayaan, pengguguran, baik secara langsung kepada janin atau kepada ibu hamil yang mengakibatkan mencelakakan janin.

  “al Ghurrah” yaitu sebanding dengan nisfh ‘ushr (seperduapuluh atau 1/20) dari diyah atau konpensasi lengkap[2]. Al Ghurrah dapat dibayar dengan membebaskan seorang budak laki-laki atau perempuan yang terbaik kualitasnya[3] Atau pembayarannya dapat dengan seratus domba[4] atau dalam bentuk uang tunai sebesar lima ratus dirham,[5] Atau dapat juga dengan lima ekor onta.


[1] Arsyad Th, Lubis, Ilmu Fiqh, hal. 129

[2] Ibn Abidin, Muhammad Amin Ibn Umar, 1979, Hasyiyah Radd al Muhtar, Beirut, Dar Al Fikr, jil. 6, hal.588

[3] Al Bukhari, Muhammad ibn Isma’il, t.t., Sahih Al-Bukhari, Kairo, Dar Al-Sya’b, jil 3, bag. 9, hal. 14  

[4] lihat Sunan Al-Nasa’i, t.t., Beirut, dar Al Turath Al-Arabi,  bag. 8, hal. 47

[5] lihat Al-Sijistani, Abu Dawud Sulayman ibn Al-As’ab, t.t., Sunan Abu Dawud, Beirut; Dar Al-Ma’rifah,  bag 4, hal. 193 Z

BACA JUGA:

  1. Fikih Muamalah Bag. 1 – Agama itu adalah Muamalah
  2. Fikih Muamalah Bag. 2 – Konsep Harta dan Uang Dalam Islam
  3. Fikih Muamalah Bag. 3 – Kewajiban Bekerja
  4. Fikih Muamalah Bag.4 – Anjuran Memberi
  5. Fikih Muamalah Bag.5 – Tawakal dan Tawakul
  6. Fikih Muamalah Bag.6 – Kepemilikan
  7. Fikih Muamalah Bag.7 – Ihrazul Mubahat
  8. Fikih Muamalah Bag.8 – Perdagangan & Jasa
  9. Fikih Muamalah bag.9 – Nilai Nilai Dalam Mencari Harta
  10. Fikih Muamalah Bag.10 – Harta Yang Diperoleh Tanpa Bekerja / Warisan
  11. Fikih Muamalah Bag.11 – Penggunaan Harta



[1] Abdullah Syah, Butir-Butir Fiqh Zakat, Wal Asri Publishing, Medan, 2007, hal. 11

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?