Wednesday, 28 October, 2020

Agama itu ialah Muamalah (Fikih Muamalah Bag 1)


Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Umum MUI Prov. Sumatera Utara)

الدين المعاملة

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik akidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Keseluruhan aspek tersebut merupakan jalinan berkelindan yang tak dapat dipisah-pisahkan satu dengan lainnya. Oleh sebab itu bidang muamalah/ iqtisadiyah atau yang sekarang dikenal dengan ekonomi Islam merupakan satu bidang kajian yang penting. Para ulama terdahulu tidak pernah mengabaikan kajian mumalah ini dalam kitab-kitab fikihnya. Bahkan dapat dikatakan seluruh kitab fikih membahas fikih ekonomi.[1]

Dalam perjalannya, materi muamalah cenderung diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dalam ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan, akibatnya terjadilah kajian Islam parsial. Fenomena yang sering terjadi dewasa ini yaitu banyaknya orang salah persepsi dalam memandang hakikat ke-islaman seseorang. Seringkali seorang muslim memfokuskan keshalihan dan ketakwaannya pada masalah ibadah ritualnya kepada Allah Swt., sehingga diapun terlihat taat ke masjid, melakukan hal-hal yang sunat, seperti shalat dan puasa sunat. Di sisi lain, ia terkadang mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan muamalah, akhlak dan jual-beli. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan, agar sebagai muslim harus kaffah. Sebagaimana firman Allah dalam surat al Baqarah ayat 20 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah menyeluruh)”

Muamalah adalah hubungan seseorang dengan orang lain. Mumalah ada 2 macam; Muamalah Ma’al Khaliq (hubungan dengan pencipta Allah) dan Muamalah Ma’al Makhluq (hubungan dengan ciptaan Allah Swt.)

  1. Muamalah dengan pencipta (Allah Swt.) dilakukan dalam bentuk ibadah dengan berbagai cabangnya.
  2. Muamalah dengan ciptaan Allah (makhluq) dalam bentuk hubungan antara sesama, baik dalam bentuk perkawinan, perniagaan dan lainnya.

Hubungan dengan Allah Swt., selalu disebut hubungan vertikal (dalam bentuk ibadah). Hubungan dengan sesama selalu disebut  dengan hubungan horizontal.

Dalam masalah ekonomi adalah hubungan antara sesama manusia yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Karena manusia itu adalalh “zoon politicon”  manusia yang suka bergaul dan selalu  saling membutuhkan.

Muamalah: Hukum-hukum yang berhubungan dengan tindak tanduk manusia sesamanya dalam masalah-masalah maliyah (kehartabendaan) dan dalam masalah-masalah huquq (hak-hak).

Ekonomi termasuk dalam muamalah, dalam pelaksanaan operasionalnya perekonomian membutuhkan perbankan. Perbankan ada dua macam ada yang memakai sistem riba yaitu bank konvensional dan ada yang dengan sistem bagi hasil inilah yang disebut dengan bank syari’ah atau bank  muamalah. Kedua sistem perbankan ini masih tetap berlaku di Indonesia. Namun sekarang kecendrungan kepada Bank Syari’ah sudah lebih besar, karena umat kita menganggap dengan bank syari’ah lebih tenang, lebih yakin kehalalannya dan keberkahannya.

Sumber Hukum Muamalah

  1. Dari Alqur’an

  وأحل الله البيع وحرم الربى (البقرة 285)

Al Baqarah(2): 275, ”Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”

وأشهدوا اذا تبايعتم (البقرة 273)

Al Baqarah (2) 282  ”Persaksikanlah jika kamu berjual beli”                

An Nisa :29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Al Maidah: 1. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

B. Dari Hadis

سئل النبى صلعم أي كسب أطيب؟ فقال عمل الرجل بيده, وكل بيع مبرور (رواه البزار)

Rasulullah ditanya “Apakah jenis mata pencaharian yang paling baik, Rasul menjawab: hasil usaha sendiri dan setiap jual beli yang bersih (dari tipu daya dan khianat)

إنما البيع عن تراض, الحديث, (رواه البيهقى)

Jual beli dilakukan atas dasar saling rela antara penjual dan pembeli.

التاجر الصدوق الآمين مع النبي والصديقي والشهدا (الحديث)

Pedagang yang jujur dan amanah akan di tempatkan bersama-sama para Nabi, orang-orang shaleh, dan para syuhada

تسعة أعشار الرزق فى التجارة (الحديث)

Sembilan persepuluh peluang rezeki adalah dalam bentuk perdagangan

Dari Ijtihad dan Maslahat

Selain dalil Alqur’an dan Hadis, ada lagi dalil yang digunakan yaitu ijtihad, (baik ijtihad pardy/perorangan maupun ijtihad jama’i/bersama dan qiyas/analogi) dan maslahat seperti dimaklumi prinsip ibadah adalah tertutup dan prinsip maumalah adalah terbuka. Dengan arti ibadah selain yang diperintahkan tidak dibolehkan sedangkan muamalah selain yang dilarang diperbolehkan.

Hukum asal ibadah: segala sesuatunya dilarang dikerjakan kecuali ada petunjuknya dari alQur’an dan Sunnah

Hukum asal Mumalah: Segala sesuatunya dibolehkan kecuali ada larangan dalam Alqur’an dan Hadis.

Pemikiran Fikih Muamalah

Fikih adalah bagian dari syariah Islam. Syariah adalah keseluruhan dari ajaran Islam. Ajaran Islam pada dasarnya dapat dibagi kepada 3 bagian, yaitu Aqidah, Syariah/Fikih, dan Akhlak.

Fikih adalah sebagian dari syariah secara umum. Fikih dapat pula dibagi kepada 4 bagian secara garis besar yaitu: Fikih ibadah (Bentuk pengabdian diri kepada Allah Swt.), Fikih Muamalah (Hukum Perdata, yaitu fiqh perdagangan, perekonomian, perbankan, dan lain-lain), Fikih Munakahat (Hukum Perkawinan), dan Fikih Jinayah (Hukum Pidana).

Maka Fikih Muamalah adalah rubu’ atau ¼ dari bagian Fikih. Di dalam kitab-kitab Fikih selalu kita temui pembagian semacam ini. Sekarang ada yang membagi syariah itu kepada dua bagian saja yaitu aqidah dan muamalah. Dalam hal ini muamalah dengan arti luas. Di dalam fikih muamalah pada garis besarnya di bahas masalah-masalah.

  1. Hak (hak milik)
  2. Harta dan pembagiannya.
  3. Jual beli dan permasalahannya
  4. Sewa menyewa
  5. Aqad /Transaksi
  6. Syarikat /perkongsian, kerja sama 
  7. Hutang/pinjam
  8. Gadai
  9. Dan lain-lain

termasuk pula dalam fikih muamalah ini sistem perbankan. Dalam perekonomian modern tidak terlepas dari penggunaan jasa bank. Bank ada dua macam, bank konvensional dan bank syariah. Bank syariah adalah bank yang menerapkan hukum syariah/fikih dalam pelaksanaan/pengolahannya yaitu dengan sistem bagi hasil, bukan dengan sistem bunga/riba. Dalam pengembangan perekonomian syariah sangat diperlukan ijtihad, agar perkembangan ekonomi dapat terus berkembang sesuai perkembangan zaman. Dawan Syariah Nasional telah banyak berbuat melahirkan produk-produk fatwa baru dalam bidang muamalat, dan ini terus akan dilakukan DSN.  Demikian juga Majelis Ulama Indonesia, baik pusat maupun daerah sangat didorong untuk memberikan fatwa-fatwa dan arahan serta pandangannya agar pemikiran tantang muamalah dan ekonomi syari’ah terus dipacu dan dikembangkan. Sehingga produk-produk Bank Syari’ah, Asuransi Syari’ah, Obligasi Syari’ah dan lainnya terus berkembang.

BACA JUGA:

  1. Fikih Muamalah Bag. 1 – Agama itu adalah Muamalah
  2. Fikih Muamalah Bag. 2 – Konsep Harta dan Uang Dalam Islam
  3. Fikih Muamalah Bag. 3 – Kewajiban Bekerja
  4. Fikih Muamalah Bag.4 – Anjuran Memberi
  5. Fikih Muamalah Bag.5 – Tawakal dan Tawakul
  6. Fikih Muamalah Bag.6 – Kepemilikan
  7. Fikih Muamalah Bag.7 – Ihrazul Mubahat
  8. Fikih Muamalah Bag.8 – Perdagangan & Jasa
  9. Fikih Muamalah bag.9 – Nilai Nilai Dalam Mencari Harta
  10. Fikih Muamalah Bag.10 – Harta Yang Diperoleh Tanpa Bekerja / Warisan
  11. Fikih Muamalah Bag.11 – Penggunaan Harta



[1] Kitab yang khusus membahas ekonomi Islam seperti: kitab  al Amwal oleh Abu Ubaid, kitab al Kharaj oleh Abu Yusuf, al Iktisab fi Riqzi al Muktasab oleh Hasan Asy-Syaibani, al Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan masih banyak lagi

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?