KONSEP HARTA DAN UANG (Fikih Mumalah Bag. 2)

0
8.276 views

A. KONSEP HARTA DALAM ISLAM

Pengertian Harta

Harta secara terminologi bahasa Arab disebut al Mal yang berarti condong, cenderung, dan miring. Oleh sebab itu manusia itu cenderung ingin memiliki dan menguasai harta. Sedangkan menurut pengertian etimologi adalah sesuatu yang dibutuhkan dan diperoleh manusia, baik berupa benda yang tampak seperti emas, perak, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun manfaat dari barang seperti kendaraan, pakaian, dan tempat tinggal.[1]

Secara sederhana harta dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang bernilai  كل ذى قيمة مالية   . Ulama Hanafiyah mendefinisakan harta dengan segala sesuatu yang dapat diambil, disimpan  dan dapat dimanfaatkan. Sesuatu yang tidak disimpan atau dipelihara secara nyata seperti ilmu, kesehatan, kemuliaan, kecerdasaan, udara, panas matahari, cahaya  bulan, tidak dapat dikatakan harta. Sedangkan sesuatu yang tidak dapat dimanfaatkan seperti daging yang sudah busuk dan sebaginya tidak dapat dikatakan harta, atau bermanfaat tetapi menurut kebiasaan tidak diperhitungakan manusia karena jumlahnya yang sedikit sehingga tidak bisa dimanfaatkan, seperti segenggam tanah, setetes air, dan sebagainya.

Pada dasarnya di dalam Islam, bumi dan segala isinya adalah harta milik Allah, sesuai dengan firman Allah di surat Al-Maidah ayat 17 dan 120 yang artinya:

Al Maidah (4): 17. ”Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Al Maidah (4): 120. “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Menurut ayat-ayat tersebut di atas, pada hakikatnya harta itu milik Allah, manusia hanya menguasainya/ mengurus dan mengambil manfaat dari padanya, selama diamanahkan Allah kepadanya. Penggunaan harta itu harus sesuai dengan yang diatur Allah di dalam perintah-perintah-Nya.

Al An’am (6): 165. “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Al Hadid (57): 7. ”Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.”

An Nuur (24): 33.  Dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaru-niakan-Nya kepadamu.

Pembagian Harta.

Harta terbagi dua yaitu; harta yang mubah dan harta yang dimiliki. Harta mubah ialah semua yang dijadikan Allah di bumi/ di alam ini, yang akan diambil manusia manfaatnya, dan belum dikuasai orang lain, contohnya:

  1. Tanah yang belum dimiliki dan belum menjadi hak orang lain.
  2. Batu pasir dan sebagainya.
  3. Barang tambang, misalnya emas, perak dan segala macam logam, minyak dan sebagainya.
  4. Pohon-pohon yang tumbuh di hutan, di gunung dan segala buahnya.
  5. Segala macam rumput yang tumbuh dengan tidak ditanami.
  6. Air laut, air sungai, air hujan dsbnya.
  7. Benda-benda di dalam sungai dan laut seperti mutiara dsbnya.
  8. Ikan di laut, burung di udara, dsbnya.
  9. Binatang-binatang di hutan, di gunung dsbnya.

Harta-harta ini semuanya setelah dijadikan Allah Swt. menjadi harta yang mubah, tidak siapapun memilikinya, dan siapapun boleh memilikinya dengan cara penguasaan atau dengan cara yang menimbulkan hak milik.

            Sedangkan harta yang dimiliki orang dengan salah satu dua cara;

  1. Sebab yang dapat menimbulkan milik.
  2. Sebab yang dapat memindahkan milik.

Yang dimaksud dengan menimbulkan milik ialah menjadikan harta-harta yang mubah yang belum dimiliki orang menjadi milik orang. Harta-harta yang mubah dapat menjadi milik dengan jalan mengambil dan menguasainya dengan sengaja Apabila seseorang mengambil dan menguasai harta yang mubah maka jadilah ia pemiliknya. Seperti tanah yang mati (tidak diolah) maka dimiliki seseorang dengan menguasainya dan mengolahnya. maka jadilah orang itu menjadii pemilik nya (pemilik tanah tersebut).

Harta yang sudah menjadi milik orang dapat berpindah menjadi milik orang lain dengan salah satu dua cara;

  1. Pindah dengan akad; seperti jual beli, hibah, wasiat dan sebagainya.
  2. Pindah dengan dipusakai, seperti seseorang meninggal dunia maka hartanya pindah kepada ahli warisnya.

Harta yang telah menjadi hak milik orang, haram bagi orang lain menguasai dan mengambil manfaatnya tanpa izin yang punya milik. Sesuatu yang lahir dari milik seseorang adalah menjadi milik orang itu juga

Kedududukan Harta Dalam Alqur’an

1. Harta sebagai amanah dari Allah Swt.

Harta merupakan amanah bagi manusia, karena manusia tidak mampu mengadakan sesuatu benda dari tiada menjadi ada. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Albert Einstein (seorang ahli Ilmu Fisika), manusia tidak mampu menciptakan energi,  manusia hanya mampu mengubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Jadi pencipta awal segala energi adalah Allah Swt.

Harta adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap kondisi, entah baik atau pun buruk, yang kita alami sudah menjadi ketentuan dari Allah Swt., dan mesti kita hadapi secara baik sesuai dengan keinginan yang memberi amanah. Harta benda yang dititipkan kepada kita juga demikian. Di balik harta melimpah, ada tanggung jawab dan amanah yang mesti ditunaikan. Harta yang tidak dinafkahkan di jalan Allah akan menjadi kotor, karena telah bercampur bagian halal yang merupakan hak pemiliknya dengan bagian haram yang merupakan hak kaum fakir, miskin, dan orang-orang yang kekurangan lainnya. Firman Allah Swt. dalam surah at-Taubah (9) ayat 103, ”ِAmbillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

2. Harta sebagai perhiasan hidup manusia.

Al Kahfi: 46. ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

Manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk memiliki, menguasai, dan menikmati harta. Namun demikian manusia harus sadar bahwa harta yang dimilikinya hanyalah merupakan perhiasan selama ia hidup di dunia. Sebagai  perhiasan hidup, harta seringkali menyebabkan keangkuhan, kesombongan, serta kebanggaan diri sebagaimana yang diungkapkan dalam Surah al ‘Alaq ayat 6-7.

Al Alaq (96): 6, 7. “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.

1.            Harta sebagai ujian keimanan.

Harta adalah ujian. Yang jadi ujian bukan hanya kemiskinan, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Persoalannya bukan pada kaya atau miskin, tetapi persoalannya adalah bagaimana menghadapinya. Kedua kondisi itu ada pada manusia, yang tujuannya di balik itu cuma satu, yaitu Allah ingin mengetahui siapa yang terbaik amalannya. Bagi yang berharta, tentunya, ada kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu.

               Dalam memperoleh dan memanfaatkan harta, harus kita perhatikan apakah telah  sesuai atau tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam Surah Al Anfaal ayat 28  dikemukakan bahwa sesungguhnya harta dan anak-anak adalah suatu cobaan dari Allah Swt.

Al Anfal (8): 28. ”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

At Taghabun:15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

4. Harta sebagai kebutuhan dan kesenangan

Ali Imran: 14. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

5. Harta sebagai bekal ibadah.           

Dengan memiliki harta maka kita dapat melaksanakan perintah Allah Swt. dan melaksanakan muamalah di antara sesama manusia melalui kegiatan zakat, infak dan sedekah sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah At Taubah Ayat 41 & 60 serta Al Imran Ayat 133-134. Harta yang kita peroleh wajib melalui cara halal yang telah diatur secara jelas di berbagai ayat-ayat dalam Alqur’an dan Hadist Rasullulah Saw. Demikian pula dalam menggunakan atau membelanjakan harta harus pula dengan cara yang baik demi memperoleh ridho Allah Swt. serta tercapainya distribusi kekayaan yang adil di tengah-tengah masyarakat. Penggunaan atau pembelanjaan harta wajib dibatasi pada sesuatu yang halal dan sesuai syariah. Dengan demikian, harta kita jangan sampai digunakan untuk perjudian, membeli minuman keras dan barang-barang yang diharamkan, membayar perzinahan, atau apa saja yang dilarang oleh syariah.

6. Harta adalah alat

Islam memandang harta suatu alat (sarana) dan bukan tujuan akhir. Harta dianggap baik apabila berada pada orang mukmin dan dinafkahkannya pada kebaikan, agar ia mendapat kehormatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Allah berfirman:

Al Baqarah: 180. ”Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.”  

Al ’Adiyat: 7. ”Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,”

Rasulullah Saw memuji harta yang baik yang berada pada hamba yang shaleh selama harta tersebut harta Allah sedang manusia hanya diberi penanggung jawab (penguasaan). Berdasarkan inilah Islam menetapkan aturan-aturan seperti anjuran untuk memanfaatkan dan memakan rezki Allah Swt.

Al Mulk: 15. “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

لأن يأخذ أحدكم الحبلة فيأتى بحزمة من حطب على ظهره فيبيعها فيكفى الله بها وجهه خير له من أن يسأل الناس أعطوه أم منعوه.

Artinya: “Seseorang yang mengambil tali untuk mengikat kayu baker kemudian memanggul di pundaknya untuk dijual kepada manusia, sehingga Allah mencukupinya adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia yang kemungkinan akan memberinya atau menolaknya.” (Hadis Rasulullah)

B. KONSEP UANG DALAM ISLAM

Islam memiliki konsep yang berbeda tentang uang. Dalam konsep Islam uang adalah uang dan uang bukan capital, sebaliknya dalam konsep konvensional konsep uang tidak jelas. Seringkali istilah uang dalam perspektif ekonomi konvensional diartikan secara bolak-balik (interchangeability), yaitu uang sebagai uang dan uang sebagai capital[2]

Perbedaan lain dalam konsep ekonomi Islam, bahwa uang adalah sesuatu yang bersifat flow concept dan capital adalah sesuatu yang bersifat stock concept. Di samping itu dalam Islam, capital is private goods, sedangkan money is public goods. Uang yang mengalir adalah public goods (flow concept), lalu mengendap ke dalam pemilikan seseorang (stock consept), uang tersebut menjadi milik pribadi (private good)[3]

Dalam konsep Islam public good sudah ada pada masa Rasulullah sebagaimana sabda Rasulullah: “Manusia mempunyai hak bersama dalam tiga hal; air, rumput, dan api”. Dengan demikian, berserikat dalam hal public goods bukan merupakan hal yang baru dalam Islam, bahkan konsep ini sudah terimplementasi, baik dalam bentuk musyarakah, muzara’ah, musaqah, dan lain-lain (penjelasannya tetang hal di atas akan dijelaskan pada bagian kedua)

Uang berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi tiga:

  1. Uang sebagai ukuran harga
  2. Uang sebagai media transaksi
  3. Uang sebagai media penyimpan nilai

Baca Juga:

  1. Fikih Muamalah Bag. 1 – Agama itu adalah Muamalah
  2. Fikih Muamalah Bag. 2 – Konsep Harta dan Uang Dalam Islam
  3. Fikih Muamalah Bag. 3 – Kewajiban Bekerja
  4. Fikih Muamalah Bag.4 – Anjuran Memberi
  5. Fikih Muamalah Bag.5 – Tawakal dan Tawakul
  6. Fikih Muamalah Bag.6 – Kepemilikan
  7. Fikih Muamalah Bag.7 – Ihrazul Mubahat
  8. Fikih Muamalah Bag.8 – Perdagangan & Jasa
  9. Fikih Muamalah bag.9 – Nilai Nilai Dalam Mencari Harta
  10. Fikih Muamalah Bag.10 – Harta Yang Diperoleh Tanpa Bekerja / Warisan
  11. Fikih Muaalah Bag.11 – Penggunaan Harta

[1] Wahbah al Zuhaili, al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, juz IV, Damsyik, Dar al Fikr, 1989, hal. 40

[2] Lihat Adiwarman Karim dalam Ekonomi Makro Islami Edisi Kedua”, Rajagarfindo Persada, 2007, hal. 77-80

[3] Aries Mufti & Muhammad Syakir Sula, Amanah bagi Bangsa, Konsep Sistem Ekonomi Syari’ah, Masyarakat Ekonomi Syariah, Jakarta, 2007, hal. 365