MUI SUMUT : Pelatihan Tahsin dan Ibadah di Minoritas

0
207 views


muisumut.com

Pelatihan tahsin qur’an dan praktek ibadah di daerah minoritas yang dilaksanakan  oleh Komisi Sosial, Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI Sumut. Medan, senin (5/10) bertempatkan di Aula MUI SUMUT jalan MUI no 03.

Dr . H. Abdul Hamid Ritonga MA sebagai ketua komisi sosial mengatakan “Ibadah sosial ada 2 yaitu ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah yg mana para ustadz mengemban tugas dakwah islam terutama dalam keimanan dan shalat jum’at. jika salah, sangat fatal, jadi shalat jumat atau imam harus fasih dan tepat bacaannya” .

Hamid juga melanjutkan hendaknya seorang imam itu haruslah fasih membaca al-fatihah dan faham ilmu tentang shalat karena itu salah satu syarat sahnya shalat.

Dia menceritakan, di Simalungun pada suatu desa, Hamid dan kawannya shalat terawih di satu mesjid, karena imamnya tidak paham tentang ilmu shalat maka terjadilah suatu masalah, ketika urutan bacaan dalam al-qur’an surah al-quraisy, imam membaca surah al-kafirun, pada ayat pertama “qul” lalu makmum dibelakang  menyahut “li ilafi” kemudian imam membaca lagi “qul” lalu makmum menyahut lagi “li ilafi” maka terjadilah dialog imam dan makmum setelah itu tertawa semua jama’ah kecuali dia dan 4 kawannya maka batallah shalat mereka.

Hamid juga menambahkan pengalaman, ketika shalat di mesjid, ada seorang imam yg sekaligus tinggal di mesjid beserta keluarganya, lalu ketika waktu ruku’ anaknya menangis, karena imam lupa rukun shalat, ia mengutamakan anaknya dari pada shalatnya, kemudian ia tinggalkan shalatnya sedang jamaah ruku’nya lama sekali.

Prof. Dr. H. Abdullah syah MA selaku ketua umum MUI berkata “Al-qur’an itu bacaan bukan pajangan, begitulah para ulama terdahulu selalu membawa Al-qur’an untuk dibaca” tegasnya

Kemudian dijelaskan bahwa baca Al-quran itu ada manfaatnya jika dibaca, minimal satu huruf saja yang dibaca maka ganjarannya sepuluh kebaikan. Oleh karena itu, membaca al-qur’an berwudhu ataupun tidak berwudhu tetap dapat pahala, namun lebih utama seseorang itu berwudhu dalam membaca al-qur’an.

Dia juga menambahkan, bagi masyarakat hendaknyalah mempelajari Al-qur’an karena tidak sah seseorang shalat jika tidak membaca fatihah. Dan bagi guru-guru sangat penting mengajarkan al-qur’an di daerah-daerah minoritas dan terpencil, alangkah disayangkan jika ada suatu desa yang shalat jum’atnya tidak ada imam dan khatibnya. (Ardiansyah; mahasiswa PTKU)