Wednesday, 28 October, 2020

Sekum MUI SU : Faham-faham Radiklaisme, Sekulerisme, Liberisme dan Pluralisme Agama, Tidak Ada Dalam Islam.


muisumut.com.Medan,- Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Provinsi Sumatera Utara, Dr. H. Ardiansyah LC, MA. dengan tegas menyatakan bahwa faham-faham yang berkaitan dengan, radikalisme, libarisme, sekularisme dan pluralisme agama tidak ada dalam Islam.“ Faham–faham ini tidak dikenal dalam Islam “ ungkapnya.

Penjelasan itu disampaikan saat membuka diskusi pemberdayaan Majelis Taklim menangkal radikalisme , liberalisme, sekularisme dan pluralisme agama. ( 7/10) di Aula pertemuan MUI SU yang dihadiri majelis-majelis taklim dan MUI Kabupaten/Kota se- Sumatera Utara.

Menurutnya kita prihatin masalah  faham ini dituduhkan kepada oknum-oknum atau personal umat Islam. bahwa paham itu tidak ada irisannya dan singgungannya dengan Islam. dengan mengutip penjelasan dari Ketua MUI Pusat non aktif, Prof KH Ma’ruf Amin  bahwa semangat kita di MUI adalah mengusung tiga ukhuwah, Islamiyah, Basyariah dan Wathaniyah.

 Ukhuwah Islamiyah kata, Dr Ardiansyah yang juga dosen di UINSU, persaudaran sesama Islam. Dengan mengutip  hadis tentang  saling melindungi, saling menyayangi satu sama lainnya tentang sakitnya suatu anggota tubuh maka sakit seluruhnya. Begitu juga senang kita senang saudara kita dan sebaliknya,  “ Untuk itu kita harus terus menjalin ukhuwah ini “ ajaknya .

Adapun ukhuwah basyariah persaudaraan sesama manusia yang sifatnya universal. Ia kemabali mengutip hadis dimana Rasul menyuruh kita menyembelih hewan peliharan yang akan dimakan dengan pisau yang tajam, agar tidak menyakitinya. “ jika Kepada  binatang saja kita berbuat demikian apalagi sesama manusia  manusia “ paparnya . Begitu terhadap jenazah, barang siapa yang mematah tulang jenazah maka sama dosanya dengan mematahakan tulangnya selagi hidup .” Kita tidak boleh menyakiti seseorang baik semasa hidup maupun mati, tambahnya.

Maka ditinjau berkaitan dengan covid ini MUI telah mengeluarkan fatwa no 17 dan 18  tahun 2020 tentang wajibnya memuliakan jenazah yang telah terpapar dengan covid 19.

Adapun ukhuwah wathaniyah adanya persaudaran sebangsa dan setanah air yang perlu dirawat  dan menjaganya karena umat Islam moyoritas di negara ini. Maka baik umat Islamnya maka baiklah negara ini, sebaliknnya jika penduduk terbesar ini terbelah- belah ini, akan merusak kita menjadi lemah.

Pada kesempatan itu Sekum MUI SU berterima kasih kepada  bidang Pengkajian dan penlitian dalam mendikusikan   faham tersebut, sehingga dengan pertemuan ini akan menambah wawasan dan menyatukan persepsi terhadap paham-paham yang menyimpang sekaligus mampu menangkalnya.

Sementara itu Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI SU, Prof. Dr. H. Fachruddin Azmi MA, dilaksanakn pertemuan ini , setelah bidang ini melakukan penlitian dan pengkajian keberapa daerah, termasuk laporan yang diterima pihaknya , adanya kelompok  dari masyarakat yang masih menganut beberapa  paham yang dapat menjurus pada paham yang menyimpang, dalam hal itu  perlu dilaksanakan suatu pertemuan seperti hari ini dengan tujuan pemberdayaan Majelis taklim untuk  menangkal radikalisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme  di Sumatera Utara.

Hal ini dilakukan mengingat kebeadaan majelis taklim, termasuk MUI Kabupaten /Kota, merupakan terdepan yang berhadapan langsung dengan kelompok yang dianggap menyimpang itu. Sehingga dengan dilakukannya penangkalan kelompok tersebut dapat diselamatkan dari paham-paham yang penyimpang.

         Prof. Fackhruddin Azmi, menambahkan bahwa keberadaan bidang Pengkajian dan Penlitian  selama ini melakukan penelitian dari laporan masyarakat atau dari MUI /Kabupaten kota. Hanya saja cara ini akan terlalu lama untuk penyelesaian. Seperi penelitian di kampung Kasih sayang yang juga dianggap ada penyimpang dalam beberapa kegiatan masyarakatnya,. Untuk itu pihaknya  memerlukan waktu lama   dan biaya tinggi dalam menelusurinya dan  menyelidikinya. Jadi dengan kehadiran MUI dan majelis taklim, hal lebih cepat dilakukan penelitian dan cukup membantu kinerja bidang pengkajian. Dengan demikian kita lebih cepat menyelamatkan umat dari faham –faham  menyimpang  lebih luas.. “ Kita berharap pertemuan ini adalah tugas dakwah untuk menyelamatkan umat.

Pertemuan upaya pembedayaan Majelis taklim ini cukup mendapat sambutan dari  peserta. ini terlaihat dalam diskusi yang disampaikan nara sumber. Adapun nara sumber pada pertemuan itu , Prof Dr H Syakur Kholil  DlT MA, Brigjen  Ruh ruh AS dari Kabinda Sumut, AKBP Budiman dari Poldasu dan Wasito.  

 Prof Syukur Kholil , menyimpulkan, Radikalisme, sekularisme, liberalime dan puralisme agama, muncul karena berbagai faktor. Termasuk karena pemahaman agama yang sempit dibarengi fanatisme berlebihan . karena itu majelis taklim diharapkan perannya untuk menanamkan pemahaman agama yang moderat dan berwawasan luas.( husni as)  

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?