Thursday, 29 October, 2020

ABDULLAH SYAH (BIOGRAFI ULAMA bag. 1)


H. Abdullah Syah Kecil

H. Abdullah Syah lahir di Tanjung pura dengan tujuh bersaudara, orang tua bernama H. M. `Thaib dan Hj. Habsyah, kakak paling besar Hawiyah, disusul H. Yahya Thaib, H. Zainun Thaib, M. Saleh, Muhammad, H. Abudullah Syah dan paling kecil H. Abdurahman Thaib.

Abdullah kecil hidup di zaman Belanda dan Jepang. Pada masa Belanda kehidupan bangsa Indonesia sedikit lebih baik dibanding zaman Jepang. Harga hasil karet tinggi, sembilan bahan pokok terjangkau, jalan dan sarana transportasi walau pun tidak sebagus sekarang tapi ada. Pakaian dapat digunakan dengan layak. Namun saat Jepang masuk ke Indonesia sebagai saudara, kondisi berubah menjadi sulit. Sekolah tidak teratur, beras langka dan harganya sangat mahal. Pakaian sangat sulit didapat dan harganya mahal. Masyarakat Tanjung Pura memakai baju belacu bahkan dibuat dari bahan kulit kayu dan getah yang digiling tipis, serta kain dari goni beras.

Sebenarnya masa kecil yang seharusnya dihabiskan untuk bermain, tapi itu tidak terjadi pada usia anak-anak saat itu. Peperangan yang dilakukan Jepang membuat hidup sangat susah. Baru pada tahun 1949 keadaan mulai membaik dan menggembirakan. Pemerintahan koalisi Indonesia – Belanda telah mewajibkan seluruh anak bangsa untuk sekolah SR. Maka terbukalah peluang untuk bersekolah. Abdullah berprestasi di setiap tingkatan sekolah, bahkan selalu dijadikan tokoh teladan bagi yang lain. Di samping itu kemampuannya membimbing adik-adik kelas dan kawan­-kawan sekelas.

Menikah dengan Dara Bengkalis

Pada usia 23 tahun Abdullah Syah muda menikah dengan seorang dara Bengkalis, bernama Aisyah binti Atan adik dari teman satu pendidikan di Tanjung Pura dan UISU di Medan, Abdul Aziz Atan.

Sebagai anak yang kuliah di rantau (Medan) dengan biaya hidup sendiri, maka menjadi guru dan penceramah merupakan alternatif untuk dapat menyelesaikan kuliah, terutama membayar uang kuliah di UISU.

Di samping mengajar di Perguruan Agama al-Ittihadiyah Mamiyai, saya juga berceramah di Riau setiap bulan Ramadhan hingga menjelang Syawal dan mengajar mengaji di rumah-rumah

Rumah Abdul Aziz pada tahun pertama dijadikan best camp untuk keliling Riau Daratan dan Lautan. Selepas berdakwah, saya kembali lagi ke rumah Abdul Aziz Atan di Kampung Meskom P Bengkalis.

Pada tahun kedua kami pun berumah tangga. Saya bawa istri ke Medan.

Anak pertama kami adalah perempuan meninggal saat berusia dua tahun, dan saat saya ingin melanjutkan kuliah ke Mesir, istri dan anak saya perempuan Layla Rohani pulang kembali ke rumah mertua di Bengkalis Riau. Peristiwa itu terjadi di tahun 1964.

Selama lima tahun menuntut ilmu di Mesir saya tidak pernah pulang ke Tanah Air. Karena membawa keluarga suatu hal yang tidak memungkinkan, kerja sebagai guru di Sekolah Indonesia Kairo juga tidak mencukupi.

Pada tahun 1968 saat saya masih di Kairo, istri saya meninggal dunia. Dia terserang demam panas yang tinggi. Menurut keluarga dan masyarakat demam biasa terjadi di daerah itu, dan diberi obat seadanya akan sembuh. Namun Tuhan berkehendak lain, demam istri saya tidak menurun malah meninggi, untuk dibawa ke rumah sakit dalam tempo singkat tidak memungkinkan, akhirnya dia pun menghembus nafas terakhir dengan damai pada tahun 1968.

Di mata saya, dia seorang penyabar. Saya tinggalkan istri saya dengan anak bayi satu orang dalam kondisi yang masih kecil tapi dia merawat dengan ikhlas tanpa mengeluh. Dia wanita luar biasa, yang rela hidup tanpa meminta biaya dari saya sebagai suami, karena kondisi ekonomi sebagai pelajar yang pas-pasan.

Untuk itu saya katakan bahwa dia adalah pejuang. Untuknya saya doakan surga dan saya laksanakan badal haji atas namanya. Semoga Allah membalas jasa baiknya dan mengampunkan segala dosanya, amin.

Ayahanda dipanggil Yang Kuasa

Saat ingin kembali ke tanah air, tepatnya ketika saya berada di Singapura, ayah tercinta menghembuskan napas terakhir. Saya mendapat sepucuk telegram dari Tanjung Pura yang memberitakan kabar tentang kematian ayah yang menjadi tulang punggung bagi keluarga kami ketika saya sedang berada di Depag RI di Jakarta. Kondisi di Jakarta pada saat itu tidak memungkinkan bagi saya untuk pulang segera, hanya doa dan salat gaib yang dapat saya lakukan dari Jakarta.

Saya harus menyiapkan laporan dan berkas guna mengurus pegawai negeri saya untuk menjadi dosen di IAIN Ar-Raniri Cabang Medan. Saya juga harus menunggu kapal “Tampomas” yang akan membawa buku-buku saya dari Jakarta ke Medan sebanyak sepuluh koper besar.

Walau pun ayah telah tiada, tapi jasanya tidak pernah terlupakan. Berkat doa dan keyakinannya pada Tuhan, kami anak-anaknya menjadi orang yang mandiri dan berhasil dalam hidup.

Saya yakin benar bahwa keberhasilan saya berkat doa orang tua. Dialah yang mendoakan saya untuk diberikan Allah ketabahan belajar di Mesir, terutama saat ditinggal mati oleh istri tercinta dengan anak kecil yang tinggal jauh di mata sendirian.

Saya sempat berniat untuk membalas jasa ayah yang telah lama hidup susah dan berjuang keras demi membesarkan kami dengan cara berbakti kepadanya saat pulang ke tanah air.

Karena dia telah mendahului kami sebelum sempat bertemu maka saya hanya dapat menghajikan atas nama dirinya, begitu juga atas nama ibu dan istri. Serta mendoakan beliau-beliau terus menerus agar dilapangkan dalam kuburnya dan diampunkan segala dosanya. Mereka semua adalah orang-orang yang sangat berjasa bagi saya.

Dara Melayu dari Medan

Akhir tahun 1971 saya menikah dengan seorang guru agama bernama Dra Fatimah Zahra dengan perayaan pernikahan dilakukan di sekolah Mamiyai. Dari istri kedua ini saya mendapatkan tiga orang anak yaitu Abdul Azim, Radhiatam Mardiyah dan Raudhatul Jannah. Semuanya telah sarjana S 1, dua di antara mereka telah meraih S 2.

Istri kedua ini juga pejuang. Dia siap ditinggalkan untuk mencapai pendidikan guna meraih gelar doktor. Saya kuliah empat bulan di Jakarta mengikuti program PLPA (Program Latihan Penelitian Agama). Di samping mengajar, dia pun sibuk mengurus anak-anak.

Pada malam Jumat awal Ramadhan tahun 1981 sebagaimana rutinitas di awal puasa, saya mengisi ceramah di Masjid Agung, saya katakan kepada istri: “Tolong dibuka pintu bila saya pulang:” Saya pun pergi, dia pun menutup pintu. Saat pulang, saya bel, pintu dibuka dan masuk. Saya menuju kamar buku untuk mempersiapkan khutbah Jumat esok harinya. Sementara istri kembali ke kamar untuk istirahat.

Dalam kesibukan mencari bahan ceramah terdenar suara dengkuran yang sedikit keras, saya datangi: “Ada apa? Kerjaan sedikit lagi selesai, kata saya.”Saya kembali lagi mencari bahan dan terdengar lagi dengkuran yang sedikit keras, saya datangi, saya katakan: “Mimpi ya…, ngigo ya….”

Saya katakan: “Bangun-bangun….”

‘Iernyata dia sudah tidak bangun lagi

Saya bangunkan anak-anak dan minta tetangga-tetangga datang, dan kata tetangga istri tercinta telah wafat. Inilah perjalanan istri kedua yang wafat dalam damai tanpa sakit yang berarti dan meninggal di dalam pangkuan saya dengan tenang.

Padahal kami telah merencanakan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun itu 1981 dan semua ONH telah lunas dibayar.

Jodoh Tak Kemana

Pada waktu saya bersama istri kedua, kawan lama H Hammad Hasan Lubis, dari Kairo datang ke Medan untuk mencari istri, sebagaimana pesan orang tuanya.

Sebagai dosen di Fakultas Syariah IAIN SU, saya pun membantunya semampu yang saya dapat. Di antaranya memperlihatkan foto mahasiswi yang mungkin berkenan untuk dirinya. Tapi tidak ada yang berkenan, dicari terus ke berbagai alamat, namun nihil

Ke berbagai perguruan tinggi tempat saya mengajar pun telah dibawa, tapi tidak juga membuahkan hasil. Di saat waktu cuti kerja semakin menipis, dia berkunjung ke tetangga saya, dan pada saat yang bersamaan saudara saya dari Tanjung Morawa berkunjung ke rumah tersebut. Dia melihat di antara saudari sepupu saya ada yang berkenan di hatinya. Padahal saudari ini telah diterima kerja sebagai sekretaris hakim di Kota Cane.

Saat dia meminta saudari ini untuk dijadikan istri. Pihak perempuan banyak yang keberatan, di samping jauh di rantau orang, di Kota Cane pekerjaan sudah menanti, juga ditakutkan pak Hammad sudah memiliki istri. Untuk menepis yang terakhir ini saya pun menjamin, bahwa yang bersangkutan masih perjaka, dan tidak memiliki istri di Kairo.

Setelah akad nikah di Medan mereka menetap di Mesir selama kurang lebih tujuh tahun sebagai lokal staf. Mereka tinggal di al-Manial. Lalu kembali ke tanah air. Sepulangnya ke Medan, beliau mengajar di UNIVA, UISU dan IAIN. Namun setelah dua tahun di Indonesia, saat rumah belum selesai dibangun ajal menjemput, bapak Hammad Hasan meninggal.

Karena pak Hammad Hasan seorang kutu buku dan memiliki buku yang banyak, maka MUI Sumatera Utara membeli buku pak Hammad Hasan untuk menjadi koleksi perpustakaan MUI Sumut. Selang beberapa lama kemudian, tepatnya selepas pulang ibadah haji, dengan takdir lilahi saya pun berumah tangga dengan anak uwak saya yang pernah di Mesir selama tujuh tahun yang bernama Hj Fachriyah Amin.

Prof. H. Salim Fakhri merupakan uwak kami yang tinggal di Jakarta. Dia sebagai ahli khat dan darinya saya dapat beasiswa. Pak Hammad Hasan dan istrinya dulu transit di Jakarta sebelum menuju ke Kairo.

Istri ketiga ini penuh perjuangan. Dia bersama anak-anak saya dapat beradaptasi dengan baik. Padahal sering kita dengar ketidakcocokan antara ibu dengan anak yang tidak dikandungnya.

Alhamdulillah, anak-anak semua dapat selesai sekolah dan kuliah dengan ibu yang mencintai mereka seperti mencintai dan melindungi anak-anaknya sendiri. Untuk itu saya ucapkan terima kasih dan saya doakan semoga Allah membalas jasa-jasa baiknya. Amin.

Ibuku berusia 100 tahun

Pada tahun 1997, ibu menutup mata untuk selama-lamanya. Rahasia panjang umur yang dimiliki ibu tercinta adalah hati yang senang dan tenteram serta anak-anak yang berbakti kepadanya. Apa saja yang diinginkan ibu, maka semua anak berebut ingin menyelesaikan tugas itu.

Saat dia ingin berkorban hewan atas nama orang tua dan saudaranya, maka hal itu dipenuhi oleh saya dan anak-anaknya yang lain. Semua keinginannya kami usahakan memenuhinya.Dia gemar sekali memakan hati lembu, kami pun sering membeli dan menitipkannya ke Tanjung Pura.

Orang tua saya yang laki-laki sangat fanatik agama. Ketika dia berkunjung ke rumah, dia melihat koleksi buku-buku saya di perpustakaan pribadi. Dia gembira melihat buku berbahasa dan bertulisan Arab, namun tiba bertulisan latin dia berkata: “Ini buku orang Belanda?.”

Kami yakin, dengan kondisi yang kurang mendukung secara finansial, keberhasilan yang diraih oleh saya dan abang adik saya adalah berkat doa orang tua.

Pesan untuk Anak

Seorang anak tidak dapat membalas jasa orang tua, walau pun seluruh harta anak diserahkan untuknya. Untuk itu, mumpung orang tua masih hidup, berikanlah apa yang dia inginkan. Karena saat beliau telah tiada, yang tinggal hanyalah penyesalan.

Bila dimarahi orang tua atau di benci balaslah dengan rasa sayang kepadanya. Jangan peduli marah orang tua, pahamilah ia dalam bingkai kasih dan sayangnya kepada kita.

Mungkin ada di antara orang tua yang memarahi istri atau suami dan anak-anak kita, dalam hal ini sekali lagi saya katakan: “Jangan peduli. Tetaplah berbuat baik kepada keduanya.”

Kalau anak diusir atau istri dibentak, katakan sabar kepada mereka dan tetap kunjungi orang tua kita.

Dia itu orang tua kita, terima marah dan nasihatnya.

Beri apa yang dia inginkan, cari makanan dan pakaian kesukaannya. Jangan melawan orang tua.

Melawan orang tua itu durhaka.

Jangan singgung perasaan orang tua.

Kalau orang tua tersinggung, cepat minta maaf.**

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?