Thursday, 29 October, 2020

ABDULLAH SYAH (Riwayat Kerja. BAG 2) BIOGRAFI ULAMA


RIWAYAT KERJA BERKATA

Berkebun di Desa

Dari sejak duduk di Sekolah Rakyat Abdullah Syah kecil telah giat membantu orang tua di kebun dengan menderes pohon getah. Kebun getah itu milik sendiri. Setelah salat subuh, waktu itu Tanjung Pura masih gelap, Abdullah Syah telah menderes hingga jam tujuh pagi.

Dia bergegas ke rumah untuk mandi dan pergi ke sekolah menuntut ilmu dengan tekun. Setelah pulang dari sekolah, salat dan makan siang, dia pun melangkahkan kaki ke kebun untuk mengangkat hasil karet. Sore hari bersama ibu pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Yang ditanam di ladang itu padi, jagung, palawija, sayur-mayur.

Mengajar Ngaji

Sejak duduk di kelas satu MMA -sederajat dengan SMA sekarang­Abdullah Syah telah mengajar di sekolah lbtidaiyah Pulau Banyak. Sekolah ini adalah tempat dia belajar mengaji dahulu. Pada masa Abdullah Syah kecil, dia bersama murid-murid yang lain belajar di masjid milik kesultanan di Pematang Serai. Kemudian selama dua tahun, sekolah rakyat dipinjam untuk mengaji di sore hari.

Setelah itu masyarakat bergotong-royong membangun sekolah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah atau MMP Mereka membawa kayu, ingkaso, papan, atap tepas, paku, bahkan tenaga membangun gedung madrasah itu juga berasal dari swadaya masyarakat, tanpa diupah. Bangku dan mejanya masih darurat. Dibuat dari papan panjang.

Abdullah Syah mengajar Al quran dan terjemahannya. Pada waktu itu kurikulum MR telah baku dan memiliki sistem yang baik, hingga siapa saja yang tamat MR dapat melanjutkan MMP dan MMA sederajat dengan SMP dan SMA.

Pengabdian

Mengajar di lbtidaiyah lebih bersifat pengabdian yang memuluskan jalan Abdullah Syah ke Mesir. Berkat doa yang ikhlas dari para murid apa yang diinginkan Abdullah Syah tercapai.

Benar, mengajar di Ibtidaiyah dapat dikatakan tidak diupah/digaji. Itu karena setiap murid yang belajar tidak ditentukan berapa uang sekolah yang harus dibayar. Bila banyak yang bayar, maka honor guru dapat dibayar, kalau tidak maka kepala sekolah yang lebih didahulukan untuk dibayar. Di sini terlihat keikhlasan, murid membayar ikhlas, guru menerima ikhlas.

Medan: Perjuangan

Di Medan Abdullah Syah mengajar di PGA Ittihadiyah di jalan Bromo, dia juga mengajar di rumah-rumah dan pengajian rutin untuk berceramah kepada kaum ibu muslimat Al-Ittihadiyah.

Setelah menamatkan MMA di Tanjung Pura, Abdullah Syah pindah ke Medan melanjutkan kuliah di UISU. Di Medan dia juga telah aktif khutbah Jumat, Idul Fitri dan Adha.

Ceramah di Riau

Pada tahun kedua di UISU selama bulan Ramadhan Abdullah Syah berceramah di Riau. Dari satu kampung ke kampung yang lain dari pulau ke pulau yang lain. Di antara lokasi pulau yang sering disinggahi adalah pulau Rupat, pulau Sumatera, pulau Selat Panjang dan tempat transit adalah pulau Bengkalis.

‘lahun kedua dari ceramah di Riau ini Abdullah Syah berumah tangga dengan adik kawan beliau bernama Abdul Aziz bin Atan, tempat Abdullah Syah menginap sebagai posko di Bengkalis Riau.

Rumah Tangga di Zaman PKI

Pada tahun 1962 keluarga dibawa ke Medan dari Bengkalis Riau. Bersama keluarga menyewa rumah di jalan Mamiyai.

Sebagai kepala keluarga yang wajib memberi nafkah kepada istri dan anak maka setiap pagi selepas salat subuh Abdullah Syah pergi membeli ikan di pasar induk ikan untuk dijual di pasar Sukarame. Pada jam sebelas pagi jualan pun selesai.

Istri membantu berjualan kedai sampah di rumah. Di samping itu, setiap pulang ke Tanjung Pura dia selalu membawa barang dagangan untuk diperjual belikan. Barang yang murah dari Medan dapat dijual untuk lepas ongkos di Tanjung Pura dan sebaliknya. Di antara barang yang murah di Medan adalah ban sepeda, gula pasir dan obat-obatan. Sementara barang yang murah dari Tanjung Pura adalah telur ayam kampung dan lain-lainnya

Setiap sore kuliah di UISU dan malam harinya mengajar di rumah penduduk. Kondisi Zaman PKI saat itu sangat susah. Peluang kerja sempit, sembako sukar didapat, kalau pun ada harganya mahal.

Ikhlas Beramal

Keikhlasan mengajar dan berceramah pada waktu itu hingga sekarang tetap ditanamkan di dalam jiwa guru dan para dai. Apalagi pada waktu itu pemberian uang transportasi dapat dikatakan jarang, kalau pun ada itu sangat minim.

Berceramah dengan imbalan amplop merupakan tradisi Indonesia dalam mempertimbangkan kehidupan guru dan mubalig. Walau pun menerima amplop, penceramah tetap saja dikatakan ikhlas berceramah, karena dia tidak pernah membuat tarif khusus untuk ceramahnya.

Begitu juga dengan jemaah pengajian tetap ikhlas dalam memberi, karena tidak pernah dipungut biaya tertentu untuk mendengar ceramah mubalig. Ini berbeda dengan di Timur Tengah. Di Mesir semua mubalig adalah pegawai pemerintah yang memperoleh jaminan hidup dan hari tua dari kementrian wakaf.

Apa yang terjadi di Mesir dapat diwujudkan dengan memperdayakan wakaf masyarakat untuk kepentingan dakwah atau wakaf tunai. Bahkan dari kalangan umat Nasrani di Sumatera Utara telah memiliki dana abadi untuk biaya para pendeta.

Di Mesir: Belajar dan Bekerja

Berangkat ke Mesir pada tahun 1964 akhir, sampai di Mesir 7-1- 1965. Pada tahun kedua setelah di Mesir hingga pulang, Abdullah Syah menjadi guru di SIC (Sekolah Indonesia Cairo). Dia mengajar pelajaran agama dan Bahasa Arab dari tingkat SMP hingga SMA.

Pada saat berada di Kairo, dia tidak dapat membawa keluarga walau pun telah menjabat sebagai guru dan mendapat bea siswa, karena semua penghasilan tidak mencukupi untuk hal itu. Di Kairo dia pernah berceramah di KBRI. Dan kegiatan itu lebih bersifat memperkenalkan diri dari pada pekerjaan yang ditekuni. Begitu juga berceramah di Masjid Negara di Malaysia, hanya sekedar membagi ilmu bagi masyarakat Malaysia di sana.

Jakarta Penuh Tawaran

Setibanya di Jakarta, tawaran kerja melimpah. Dengan gelar MA yang ada saat itu masih langka, pintu pegawai negeri terbuka lebar. Ada tawaran untuk memilih Jakarta, Aceh atau Medan. Sebagaimana sebelumnya ada tawaran untuk menetap di Malaysia. Tapi saya masih lebih memilih untuk menetap di Medan.

Karena saya ingin mengabdi kepada keluarga. Ditambah biaya perjalanan pada masa itu mahal, transportasi darat ke Jakarta belum tersambung, kapal laut dan pesawat harganya mahal. Ditakutkan, karena kesibukan saya tidak dapat bertemu dengan orang tua dan keluarga.

Kalau di Medan, hanya dengan sepeda motor dengan tiga anak, beliau telah sampai ke Tanjung Pura hampir setiap bulan. Ada prinsip Melayu “walau pun rumah condong yang penting gulai lemak.” Masyarakat Melayu ingin berkhitmat kepada kampung halaman tempat dia dilahirkan dahulu dan kepada keluarga khususnya ayah dan emak.

Kesibukan di Medan

Sepulangnya di Medan, jadwal ceramah setiap pagi, siang, sore hingga malam terus saja penuh. Beliau juga langsung mengajar di MIN dan UISU.

Pada tahun 1973 MUI Sumut dibentuk, dan pada saat itu beliau langsung mengisi posisi penting bidang zakat di MUI tersebut hingga saat ini beliau telah menjabat ketua umum MUI SU. Dengan berada di MUI beliau menjadi sosok yang netral tidak memiliki ormas dan parpol tertentu. Pendirian beliau: “Saya menempatkan diri untuk semua.”

Untuk itu beliau diterima berceramah di kalangan Muhammadiyah, al­Washliyah. Saya melihat umat Islam perlu bergaul luas tidak saja tertumpu pada kepentingan ormas masing-masing. “I’oh, Islamnya sama.

Kalau ada yang mengatakan bahwa ketika alumni ‘I’imur Tengah dapat mengisi pengajian di kalangan Muhammadiyah dan al Washliyah serta NU dapat disebut tidak memiliki identitas dan bersifat bunglon, maka beliau berkata: “Yang mengatakan itu, tidak memahami kesatuan umat. Umat jangan dibeda-bedakan. Islam itu satu, dalam kesatuan Islam itu ada titik-titik kesepakatan yang begitu banyak. Aturannya satu, Nabi akhir zamannya satu, Tuhannya juga satu. Sedangkan masalah khilafiyah furuiyah itu kita serahkan kepada individu masing-masing. Dengan luasnya pengetahuan seseorang dapat memahami perbedaan itu rahmat.”

Ceramah bil Hikmah

Dalam ceramah perlu melihat kondisi masyarakat. Apakah mereka perlu memperoleh penyegaran dan perbaikan dalam bidang apa? Apakah dalam bidang ekonomi, persatuan, silaturahmi atau pencerdasan.

Para dai perlu memiliki kiat dalam menyampaikan pesan tapi tidak menyinggung perasaan pendengar. Kesediaan mereka mendengar ceramah berarti ada keinginan mereka untuk berubah, maka perlu menyampaikan pesan dengan cara yang baik dan bijaksana.

Dalam merubah suatu keadaan, Islam menganut paham tadaruj/proses, tidak instan. Perlu kiat bagaimana ceramah dapat dipahami tapi tidak menyinggung, dapat memperbaiki tapi tidak menyakiti, dapat merubah tapi tidak terasa.

Ada yang mengatakan dakwah lisan kurang efektif dan khutbah Jumat sudah kebal bagi bangsa Indonesia yang nota benenya sebagai negara korupsi terbesar di dunia.

Manfaat ceramah itu besar. Kalau tidak ada ceramah bagaimana Indonesia saat ini, dengan adanya ceramah saja keadaan Indonesia sudah begini. Hargai para penceramah dan bersyukur kita masih ada orang yang mau berceramah dan mendengar ceramah.

Masyarakat Indonesia tidak bosan mendengar ceramah karena besar dan banyaknya permintaan untuk hal itu. Tinggal yang perlu hagaimana diatur dan dimenej agar ceramah itu dapat tepat merata ke seluruh Sumatera Utara dan tidak menumpuk di kota-kota besar saja dan ceramah itu diberikan tepat sasaran dan berceramah dengan hati yang ikhlas. Oleh karena itu keberhasilan dakwah/ khutbah adalah kuncinya para dai dengaii hati yang ikhlas dan pendengar juga menerima dengan hati yang ikhlas, maka hasilnya sangat baik.

Sebagai Anggota Masyarakat yang Aktif

Selama di Medan beliau menjadi anggota pengurus di Bazis dan Bazda SU, MTQ, LP`hQ dan MUI sampai sekarang. Bahkan baliau ikut dalam musyawarah pembentukan MUI, Bazis, Bazda, Harta Agama, Islamic Center, ICMI, Masjid Agung dan Masjid al-Jihad dan lain-lain  Anggota MPR

Pada tahun 1992-1997 Abdullah Syah menjadi anggota MPR dari utusan daerah Sumut memalui jalur perguruan tinggi.

Selama tiga bulan beliau berada di gedung MPR bersama dengan anggota MPR yang lain untuk menyusun GBHN. GBHN disusun berdasarkan fakta ril di lapangan dan dijadikan acuan untuk pembangunan Indonesia selama satu tahun, lima tahun atau bahkan bulanan. Laporan pertanggung jawaban akan disesuaikan dengan GBHN yang telah disusun dan dirancang oleh MPR.

Saya melihat bahwa MPR pada masa Orde Baru bekerja cukup baik dan memiliki orang-orang berkualitas sebagai utusan yang menguasai di bidangnya masing-masing. Ini berbeda dengan sekarang yang bekerja kurang fokus dan kurang berkualitas.

Usaha Lain

Setiap manusia menginginkan kemapanan ekonomi, terutama mubalig agar dapat mengabdi di masyarakat dengan maksimal. Selama belanja rumah tangga terpenuhi, sekolah anak-anak terjamin sampai jenjang pendidikan tertinggi maka keikhlasan itu lebih mudah diraih.

Saya mendapat gaji dari PNS, tapi gaji itu tidak cukup. Untuk menutupinya ada usaha sampingan yang halal. Hingga ketika masyarakat memerlukan kita dapat memenuhinya tanpa tergantung sepenuhnya dengan amplop.

“Dahulu saya berdagang, sekarang saya berkebun. Saya menanam bibit pinang, sawit. Kalau dikatakan ustad tidak memiliki keahlian di bidang itu, saya tidak tinggal diam. Saya belajar, dan bisa, kalau kita mau kita bisa”

Beliau pernah menanam sampai tujuh ribu bibit pinang atas permintaan seseorang. Semua anak dan keponakan dilatih bagaimana cara menanam bibit.

Ini merupakan dakwah bil hal. Dengan begini, terbuka pemikiran keluarga besar dan masyarakat “Ianjung Pura untuk menggarap lahan di pekarangan rumahnya bahkan di kebun yang mereka tinggalkan terbengkalai. Masyarakat bersyukur, karena pendapatan meningkat dan ada kegiatan bertani atau berkebun. Ada pekerjaan afdhal, manfaatnya tidak hanya untuk manusia tapi juga untuk binatang.

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?