ANJURAN MEMBERI (Fikih Muamalah Bag. 4)

0
2.146 views

Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua MUI Sumut)

Mungkin ada yang bertanya, ”Apa bedanya ”Memberi” dengan ”Menjadi Kaya”? Bukankah untuk memberi kita harus kaya?” Meski sekilas ”Memberi” sama dengan ”Menjadi Kaya”, tapi tidak serupa. Betapa banyak orang yang kaya tapi tidak mau bayar zakat atau bersedekah? Sebaliknya berapa banyak orang miskin atau yang hidupnya biasa saja tapi justru rajin berzakat dan sedekah? Berapa banyak orang yang kaya tapi tidak berhaji. Sebaliknya banyak orang yang pas-pasan malah bisa naik haji.

Mungkin ada yang bertanya, ”Apa iya orang miskin atau pas-pasan bisa sedekah/bayar zakat?” Jawabnya bisa:

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya: ”Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah memberi sedekah atas orang yang banyak tanggungannya. (Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim”.)

Dalam Islam, yang diperintahkan adalah membelanjakan harta untuk kebaikan. Bukan menjadi kaya. Misalnya dalam rukun Islam tidak ada perintah jadi orang kaya. Yang ada adalah membayar zakat dan pergi berhaji jika mampu.

Meski untuk membayar zakat, dan pergi haji diperlukan harta kekayaan, namun bukan berarti setiap orang kaya mau membayar zakat dan pergi haji. Apalagi jika akhirnya untuk menjadi kaya semua cara dihalalkan dan membelanjakannya pun dengan bermewah-mewah serta memandang hina orang miskin.

”Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” adalah himbauan untuk memberi. Artinya orang yang memberi lebih mulia daripada orang yang meminta. Bukan orang kaya lebih mulia dari pada orang miskin. Berapa banyak orang yang kaya tapi dari hasil minta-minta suap atau komisi dan enggan bersedekah.

Menjadi kaya bukanlah tujuan dalam Islam. Berapa banyak orang yang kaya, tapi dilaknat Allah dalam Alqur’an. Contohnya Karun. Kekayaannya sangat besar, namun karena sombong dan enggan menolong, dia mati dibenamkan ke dalam bumi oleh Allah Swt.

Al Qashas (28):76, ”Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”

Bukan hanya Karun orang kaya yang disiksa Allah. Sebelumnya banyak orang-orang yang lebih kaya juga dibinasakan oleh Allah Swt.:

Al Qhashas (28):78, ”Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”

Harta kekayaan tidak ada manfaatnya jika dari yang haram atau tidak digunakan di jalan Allah. Dalam hal mencari kekayaan, orang sering lupa sehingga yang haram menjadi halal. Karena ingin kaya, banyak umat Islam memilih jalan pintas dengan korupsi, meminta komisi, dan sebagainya.

At Takatsuur (102): 1, ”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu

Al Lahab (111): 2, ”Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.”

Rasulullah Saw. berkata: ”Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (Shahih Muslim No.5261)

CERCAAN ALQUR’AN TERHADAP ORANG BAKHIL

Sifat-sifat manusia ada yang terpuji dan ada pula yang tercela, sifat pemurah adalah sifat terpuji disukai Allah dan disukai manusia. Sedangkan sifat bakhil adalah sifat tercela dibenci oleh Allah Swt. dan dibenci manusia. Dalam sebuah hadits, Rasul Saw. bersabda:

وقال صلعم: السخى قريب من الله قريب من الناس قريب من الجنة بعيد من النار. والبخيل بعيد من الله بعيد من الناس بعيد من الجنة قريب من النار, والجاهل السخى أحب الى الله من عابد بخيل

Artinya:

Orang pemurah dekat dengan Allah dekat dengan manusia dekat dengan syurga, jauh dari neraka. Dan orang bakhil jauh dari Allah jauh dari manusia jauh dari syurga dekat dengan neraka. Orang jahil yang pemurah lebih disukai Allah dari pada orang “Abid (kuat ibadah) yang bakhil. (HR. Turmuzi)

Hadis ini memperingatkan manusia agar bersifat terpuji dan menjauhi sifat tercela. Karena sifat tercela itu merugikan diri sendiri, Allah tidak suka orang banyak pun tidak
senang.                                                                                                       

Namun demikian banyak orang lupa akan akibat sifat tercela. tersebut, seperti sifat bakhil. Dia menyangka hartanya itu dengan kebakhilannya membuat kebahagiaan bagi dirinya, tetapi akibatnya adalah sebaliknya yaitu membuat kerugian dan kecelakaan pada dirinya.

Di antara keuntungan orang pemurah, bukan manusia saja yang mendo’a kannya, tetapi Malaikatpun mendo’akan orang pemurah dengan tambahan rezeki dan pengganti yang lebih besar dari jumlah yang disedekahkannya. Sebaliknya pada orang bakhil Malaikat mendo’akan kerugian dan kebinasaan pada diri dan hartanya.

Pada sebuah hadits Rasul bersabda mengenai hal ini

قال صلعم : ما من يومن يصبح فيه العباد الا ملكان ينزلان فيقول احدهما اللهم أعط منفقا خلقا ويقول الاخر اللهم أعط ممكن تلفا {رواه اشيخان}

Artinya:

Pada tiap pagi hari, masing-masing orang ada dua Malaikat diturunkan kepadanya; Salah satunya berkata; Ya Allah berilah kepada orang pemurah yang suka berlnfaq sebagai pengganti dan rezeki yang diinfaqkannya. Dan berkata yang lain Ya Allah berilah bahaya/kesusahan kepada orang bakhil yang menahan hartanya tidak mau berinfaq.

Dalam kenyataan sehari-hari dapat kita lihat dan kita simak, bahwa orang pemurah itu rezekinya tidak berkurang bahkan bertambah, sebaliknya yang kikir atau bakhil itu selalu rezekinya berkurang dengan berbagai sebab, pikirannya selalu gelisah, semakin banyak hartanya semakin gelisah/tidak tenang.

Dengan hartanya yang banyak itu dia sukar tidur nyenyak, sukar bergaul dengan orang banyak, sukar berteman, karena dia khawatir terus menerus, apabila orang datang akan mengambil hartanya, atau membinasakannya. Kekayaan semacam ini tidak bermanfaat buat dirinya di dunia ini, dan merugilkan lebih besar lagi di akhirat nanti, dihari berhisab.

Alqur’an menghinakan dan mengancam terhadap orang bakhil, di antaranya firman Allah Swt.

Ali Imran (3): 180, ”Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Di  dalam  hadits  Rasul  Saw.,  juga  disebutkan   bahaya  orang  bakhil, di antaranya

قال صلعم : السخاء شجرة من اشجار الجنة اغصانها متدليات فى الدنا, فمن يأ خذ بغض شها قادة ذالك الغض الى الجنة, والبخل شجرة من اشجار النار, اغصا نها متدليات فى الدنيا فمن يأخذ بعض من اغصانها قادة ذلك الغض الى النار

As-Sakha”, (pemurah) satu pohon di antara pohon-pohon syurga, yang ranting-rantingnya menjulur ke dunia. Barang siapa yang mengambil ranting tersebut, ranting itu memimpinnya ke syurga.“Al-Bukhlu”, (kedekut) adalah pohon di antara pohon-pohon neraka, yang ranting-rantingnya menjulur di dunia. Maka barangsiapa yang mengambil ranting di antara ranting itu, ranting tersebut akan memimpinnya ke neraka.

Dari ayat dan hadis di atas, jelas kepada kita bahwa Allah Swt. membenci orang bakhil/kikir dan menjanjikan bahwa harta yang ditahannya karena bakhil itu, akan mengazabnya di akhirat kelak. Sifat bakhil di dunia ini apabila menghinggapi seseorang seperti benalu yang akan mematikan pohon dan seterusnya menggiringnya ke neraka.

Di dalam kehidupan di dunia ini Allah memberi petunjuk agar kita jangan bakhil dan jangan mubazzir. Maka di antara itulah kita berada, dan pandai-pandailah kita meniti buih agar tidak tergelincir ke bakhil dan tidak terjerumus ke mubazzir (membuang-buang harta).

Alqur’an di dalam banyak ayat selain mengecam orang bakhil juga mengecam orang mubazzir, di antaranya :

Al Isra (17): 26-27, ”Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemborosan-pemborosan itu adalah saudara-saudara syaithan, dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Ayat ini jelas mengecam orang pemboros (mubazzir) dan dikatakan orang pemboros itu saudara Syaithan, jelas Syaithan itu mempunyai sifat tidak baik dan ingkar kepada Tuhan.

Selanjutnya Allah mengecam orang bakhil  

Al Isra (17):29, ”Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”

Pada ayat ini Allah sekaligus mengecam kedua sifat tidak baik itu, yaitu sifat kikir/bakhil dan sifat boros/mubazzir. Maka yang terbaik Allah memberi petunjuk agar kita tidak terkena pada salah satu sifat tercela itu.

Al Furqan (25):67, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Petunjuk ayat ini agar kita cermat dan ‘arif dalam pengeluaran harta kita, jangan menjadi kikir dan jangan pula menjadi pemboros. Maksudnya keluarkanlah harta itu pada kewajarannya, belanja rumah tangga kita sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan, berilah infaq shadaqah untuk yang memerlukan, dan jangan diberikan harta kita untuk foya-foya yang haram dan berlebihan. Jangan kikir dalam pengeluaran sehingga untuk kepentingan rumah tangga dan anak-anak keluarga kita ditahan, apalagi untuk sumbangan infaq dan sebagainya, tidak mau dikeluarkan, harta itu hanya disimpan dihitung-hitung saja siang malam. Oleh karena itu kitalah yang mengetahui apakah kita boros atau kikir, karena ukuran keperluan kita dan keluarga kitalah yang paling tau dari orang lain.

HAK ORANG FAKIR

Islam menegaskan adanya hak orang fakir dalam harta, dan menganggap bagian harta yang diperoleh orang fakir itu adalah semata-mata haknya yang tertentu dari harta orang kaya. Hal ini karena pemilik harta ketika menyerahkan sebagian hartanya kepada orang fakir berarti ia melaksanakan tanggung jawabnya, membersihkan hartanya dan mencari keridhaan Tuhannya.

Pengertian inilah yang ditegaskan Alqur’an:

Al An’am: 141. ”Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Al Isra: 26. ”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

Al Zariyat:19. ”Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”

Al Maarij:24, 25:. ”Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),”

Alqur’an menegaskan pengertian ini untuk memperbaiki kesalahan pendapat orang yang beranggapan bahwa tujuan zakat dalam Islam untuk mengadakan suatu bentuk kewajiban tambahan bagi orang kaya.

Alqur’an karena kehalusan bahasanya tidak memakai kata: “haknya” selain untuk arti harta atau buah-buahan yang diambil si fakir, hal ini karena Islam sangat menjaga perasaan orang fakir dan harkat kemanusiaannya. Karena itulah Islam menyuruh menyembunyikan sedekah, tidak membangkit-bangkitnya, menyuruh memilih macam sedekah yang baik yang diberikan kepada sifakir.

Kefakiran Yang Mulia

           Telah kita ketahui ukuran manusia dalam Islam, maka apakah Islam memuji kefakiran? Orang yang membaca nash-nash Alqur’an akan memahami hal ini. Para musuh Islam menganggap Islam merangsang orang untuk menjadi fakir agar mereka bersabar menanggung hinanya kepapaan. Memang kita akan berbuat aniaya terhadap agama apabila  kita salah memahaminya.

Agama Islam tidak memusuhi dunia, tidak pula menghalangi  manusia mendapatkannya. Yang benar adalah Islam tidak menyuruh kaum muslimin mencintai dunia sepenuhnya sebagaimana cintanya naluri kemanusiaan mereka terhadap dunia. Islam tidak menyuruh ayah mencintai anak sepenuhnya sebagaimana naluri ayah mencintai anak. Islam menganjurkan adanya perimbangan antara mengejar dunia dan akhirat. Allah berfirman:  

Al Qashas: 77. ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Wajiblah bagi kita mengetahui kemiskinan yang dipuji Islam, yaitu tentu saja bukan kemiskinan yang datang karena kemalasan dan tiada kesungguhan, akan tetapi kemiskinan yang timbul karena berjuang di jalan Allah. Sebagaimana yang terjadi dizaman Nabi, kaum musyrikin melucuti semua harta kaum muslimin agar mereka tidak bisa berhijrah ke Madinah bersama Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:

Al Baqarah: 273. ”(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”

 Inilah bentuk kemiskinan yang dimuliakan dalam Islam dan yang dimaksud oleh ayat dan hadis yang memuji kemiskinan. Yang sama bentuknya dengan contoh ini ialah kemiskinan yang disebabkan membela kebenaran. Perkataan yang benar itu pahit. Banyak sekali kesulitan ditimpakan kepada orang yang mengucapkannya, tetapi kesulitan itu adalah cobaan Iman.

Berlaku jujur dalam memberikan fatwa juga termasuk dalam arti membela kebenaran.

Yang sama juga bentuknya dengan contoh ini ialah kemiskinan yang disebabkan menghindarkan diri dari yang haram dan mencari makanan yang halal. Alangkah baiknya perkataan seorang istri yang Faqir terhadap suaminya ketika keluar mencari makan; “Suamiku carilah makanan yang halal. Saya dapat sabar menanggung lapar, tetapi tak sanggup sabar menaggung panasnya api neraka. Oleh karena itu suami jangan membawa hasil korupsi atau penipuan kerumah untuk dimakan anak dan istri, karena memakan harta yang diperoleh dengan cara yang haram sama dengan memakan bara api neraka.

Baca Juga:

  1. Fikih Muamalah Bag. 1 – Agama itu adalah Muamalah
  2. Fikih Muamalah Bag. 2 – Konsep Harta dan Uang Dalam Islam
  3. Fikih Muamalah Bag. 3 – Kewajiban Bekerja
  4. Fikih Muamalah Bag.4 – Anjuran Memberi
  5. Fikih Muamalah Bag.5 – Tawakal dan Tawakul
  6. Fikih Muamalah Bag.6 – Kepemilikan
  7. Fikih Muamalah Bag.7 – Ihrazul Mubahat
  8. Fikih Muamalah Bag.8 – Perdagangan & Jasa
  9. Fikih Muamalah bag.9 – Nilai Nilai Dalam Mencari Harta
  10. Fikih Muamalah Bag.10 – Harta Yang Diperoleh Tanpa Bekerja / Warisan
  11. Fikih Muaalah Bag.11 – Penggunaan Harta