TAWAKAL DAN TAWAKUL (Fikih Muamalah Bag. 5)

0
1.428 views

Prof, Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua MUI Sumut)

Ada sekelompok orang yang mereka tidak mau mencari kebutuhan hidup dengan dalih agama dan rela mendapat kehinaan karena bertopengkan tawakkal kepada Allah.

Tentara yang berjuang bertawakkal kepada Allah, petani yang rajin bertawakkal kepada Allah, pelajar yang tidak tidur dimalam hari untuk mengulang pelajarannya bertawakkal kepada Allah, pedagang yang jujur juga bertawakkal kepada Allah. Maka di manakah letak pertentangan antara “usaha” dan “tawakkal” kepada Allah?

Tawakkal kepada Allah adalah suatu kekuatan jiwa yang mendorong untuk berusaha. Allah berfirman:

Ali Imran: 159, ”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Hadis Nabi Saw. tentang tawakkal berikut ini adalah suatu gambaran usaha yang terus menerus dan bukan bersandarkan kepada angan-angan kosong;

“Kalaulah kamu bertawakkal kepada Allah dengan arti yang sebenarnya niscaya Allah memberi rezki sebagaimana Ia memberikan rezeki kepada burung yang keluar pagi hari dengan perut kosong…., kemudian pulang sore hari dengan perut penuh berisi makanan”

Tersebutlah dalam suatu cerita bahwa seorang ulama berjumpa dengan seorang musafir yang sedang berpergian untuk menunaikan ibadah haji tapi tidak membawa bekal.

Ulama tersebut bertanya: Bagaimana anda berpergian tanpa bekal?

Musafir           : Saya bertawakkal kepada Allah

Ulama              : Apakah anda berpergian sendirian atau rombongan?

Musafir           : Beserta rombongan

Ulama              : Kalau begitu sebenarnya anda bertawakkal kepada rombongan anda.

HARGA DIRI MANUSIA

Orang yang sedang kebingungan tidak mengetahui ukuran adil terhadap orang lain, seringkali ukurannya hanya berdasarkan harta yang dimilikinya. Orang yang hidup dinilai dengan hartanya. Orang yang mati ditanya apa yang ditinggalkannya

Orang Yahudi pernah menentang Thalut orang yang dipilih Allah menjadi raja Yahudi karena ia tidak punya harta yang banyak.

Al Baqarah: 247. ”Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah Kami, Padahal Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui.”

Standar nilai manusia dikalangan Yahudi dan dikalangan kaum materialis disetiap masa adalah harta. Tatkala Islam datang iapun menetapkan ukuran manusia yang baru, manusia dinilai berdasarkan kandungan hatinya, bukan karena hartanya. Boleh jadi ia tidak punya harta atau hartanya sedikit tetapi hartanya yang sedikit itu bersih dan  baik, taqwanya tinggi, maka inilah standar orang baik dan bernilai tinggi disisi Allah dan disisi manusia.

Al Hujarat: 13. ”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Orang hina tidak akan terangkat dari kehinaanya sekalipun perbendaharaan bumi jadi miliknya dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia binasa.

Allah yang menguasai arsy adalah maha besar, maka tidak mungkin diangkatkan kepadaNya orang hina. Allah Maha Kaya maka tidak mungkin ia memuliakan seseorang karena hartanya.

Ketika Abu Lahab tetap dalam kekafirannya turunlah ayat

Al Lahab: 2. ”Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”.

Bila kekayaan yang dimiliki tidak membawa kepada kemuliaan diri, maka tidak mungkin mendapat kekekalan dan kemuliaan

Al Humzah: 1- 4. ”Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah”.

Kekekalan tidak mungkin dibeli dengan harta, standar apapun yang dibuat untuk ukuran manusia selain taqwa adalah salah besar. Allah berfirman:

Saba: 37. ”Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh Balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga).”

Ukuran manusia menurut Islam adalah Iman dan akhlak, siapa yang telah memperoleh keduanya, maka tidak berbahaya baginya sekalipun ia memiliki dunia, dan tidak pula turun kemuliannya karena ia hidup sederhana.

Baca Juga:

  1. Fikih Muamalah Bag. 1 – Agama itu adalah Muamalah
  2. Fikih Muamalah Bag. 2 – Konsep Harta dan Uang Dalam Islam
  3. Fikih Muamalah Bag. 3 – Kewajiban Bekerja
  4. Fikih Muamalah Bag.4 – Anjuran Memberi
  5. Fikih Muamalah Bag.5 – Tawakal dan Tawakul
  6. Fikih Muamalah Bag.6 – Kepemilikan
  7. Fikih Muamalah Bag.7 – Ihrazul Mubahat
  8. Fikih Muamalah Bag.8 – Perdagangan & Jasa
  9. Fikih Muamalah bag.9 – Nilai Nilai Dalam Mencari Harta
  10. Fikih Muamalah Bag.10 – Harta Yang Diperoleh Tanpa Bekerja / Warisan
  11. Fikih Muaalah Bag.11 – Penggunaan Harta